Rabu, 15 Juni 2016

BENGKALIS KOTA TERUBUK


Wan Rifka Wulandari / PBM

Mendengar dan membicarakan ikan terubuk, kita langsung teringat Kabupaten bengkalis yang pernah jaya sebagai penghasil ikan terubuk di Indonesia pada era 1960-an hingga 1980-an.
Sampai saat ini, cerita tentang Laksamana Raja Dilaut menjadi cerita rakyat yang dimiliki daerah ini yang di dalamnya terkandung cerita tentang upacara penyemahan ikan terubuk.
Secara geografis, perairan Bengkalis terleteak di perairan Selat Melaka yang merupakan pemisah diantara dua Negara, Indonesia dan Malaysia.Perairan ini memiliki sumber daya ikan yang potensial yang dapat dikelola dan dikembangkan sebagai pertumbuhan ekonomi yang menguntungkan bagi kedua Negara.
Ikan terubuk (terubok) di Indonesia hanya ditemukan di Bengkalis, Riau, oleh karenanya tidak salah jika ikan ini menjadi ikon bagi Kota Bengkalis. Dagingnya mengandung protein tinggi dan bercita rasa sangat lezat. Selain dagingnya, telur ikan ini juga menjadi makanan seafood termahal di dunia. Olahan telur ikan terubuk yang berjenis osetra surgeon ini umumnya dijadikan kaviar ikan terubuk atau telur ikan yang diasinkan. Harga kaviar telur ikan terubuk mencapai 4,5 juta per porsi. Mahalnya kaviar ikan terubuk ini tidak terlepas dari populasi ikan terubuk yang semakin langka saat ini. Bagi masyarakat Bengkalis hewan air
payau ini bukan hanya sekedar komoditas ekonomi. Ikan terubuk atau toli shad telah mendapatkan tempat khusus dihati masyarakat Bengkalis. Hal itu tercermin dari Syair-Syair Ikan Terubuk yang beredar di masyarakat Bengkalis sejak abad-19.
Bengkalis pada masa lalu memegang peranan penting dalam sejarah. Berdasarkan cerita rakyat yang ada , dimulai pada tahun 1645, Bengkalis hanya merupakan Kampung nelayan. Berdasarkan sumber sejarah, pada tahun 1678 daerah ini menjadi tempat pertemuan pedagang-pedagang Melayu, Jawa, Arab yang membawa barang dagangannya bersama dengan pedagang-pedagang dari Palembang, Jambi, Indragiri, Aceh, Kedah, Perak, Kelong, Johor, Penang, Petani, Siam, Kamboja, Kocin, Cina dan orang-orang Minangkabau yang mendiami Sumatera dan datang ke sana untuk mengambil garam, beras, dan juga ikan (terubuk) yang banyak ditangkap oleh orang-orang Selat.
(Bpnbtanjungpinang.2015)
Hanya beberapa tahun setelah tahun 1511, terbit sebuah buku tentang Melaka, yaitu The Suma Oriental. Penulisnya, Tome Pires, yang berbangsa Portugis, memberikan suatu gambaran yang jelas, khusus tentang masyarakat masyarakat Melaka dari tahun 1400 sehingga tahun 1515, walaupun tulisannya berorientasi dari sudut pandangannya. Kisah sejarah tersebut dibuat ketika beliau berada di kota kosmopolitan Melaka dari tahun 1512 hingga tahun 1515, yaitu tahun-tahun awal penaklukan dan pendudukan (bangsa Portugis Eropah yang pertama ini di Melaka). Mungkin disebabkan Tome Pires menyaksikan sendiri suasana pada periode awal zaman peralihan, yaitu dari pendudukan Melayu ke pendudukan Portugis, maka beliau bersikap condong ke arah Portugis, dengan mengedepankan nilai-nilai asli keportugisannya, dari segi etos, agama, kepercayaan dan pandangannya tentang dunia.
(Muhammad Yusoff Hashim, 1990: xxv).
Magis dalam Syair Ikan TerubukSalah satu cerita lisan yang masih mentradisi di kalangan masyarakat Melayu Bengkalis, Riau adalah kisah ikan Terubuk. Kisah ini terabadikan dalam bentuk syair dengan 285 rangkaian bait yang lebih dikenal dengan Syair Ikan Terubuk. Rangkaian bait syair ini telah diterbitkan sekitar dua puluh versi, salah satunya ditulis oleh Ulul Azmi.
Melalui buku ini, Ulul Azmi menunjukkan bahwa syair ikan Terubuk merupakan karya sastra sarat makna dan bernilai tinggi yang mempunyai pengaruh cukup signifikan terhadap kehidupan masyarakat Bengkalis, khususnya di laut muara sungai Siak, Riau. Di samping itu, Azmi juga menunjukkan bahwa karya sastra yang diciptakan pada abad ke-19 ini dibuat oleh seorang penyair yang memiliki pengetahuan luas mengenai kehidupan di dalam air, baik air asin maupun air tawar.
Mantra Sakti Ikan Terubuk
Dalam perkembangannya, Syair Ikan Terubuk yang menceritakan nasib ikan Terubuk dan pasukannya yang terjerat jaring para nelayan mengalami pergeseran nilai dan fungsi. Mulanya syair ini merupakan karya sastra sarat makna, kemudian beralih fungsi menjadi mantera pengundang yang mempunyai kekuatan magis. Perubahan dari sekedar karya sastra menjadi mantra berkekuatan magis menunjukkan adanya pergeseran makna dan fungsi dari Syair Ikan Terubuk.
Masyarakat Bengkalis percaya bahwa pembacaan Syair Ikan Terubuk dapat mengundang ikan Terubuk yang "dipercaya" berasal dari selat Malaka agar datang berbondong-bondong ke wilayah perairan Bengkalis untuk bertelur, beranak pinak, hingga akhirnya dapat ditangkap oleh para nelayan setempat.
Untuk menghadirkan kekuatan sakral sebagai mantra pengundang, Syair Ikan Terubuk selalu dibacakan dalam upacara mengundang ikan Terubuk. Upacara ini disebut semah laut. Pelaksanaan upacara semah laut dipandu oleh para Bathin (tetua adat) yang berasal dari Bengkalis, Senderak, Alam, dan Penebal. Dalam upacara ini, para tetua adat berperan sebagai mediator untuk memanggil ikan-ikan Terubuk.
Nuansa Penaklukan
Membaca Syair Ikan Tarubuk akan semakin menarik jika kita membacanya melalui kaca mata politik. Secara politik, rangkaian Syair Ikan Terubuk menggambarkan ambisi yang gagal dari penguasa lautan, ikan Terubuk, untuk menguasai daerah pedalaman, putri Puyu-Puyu. Jika ditarik pada konteks awal keberadaan syair tersebut, kita akan mengetahui bahwa Syair Ikan Terubuk menceritakan ambisi dari negeri pantai di wilayah Semenanjung Melayu, yang diwakili oleh Sultan Mahmud dari Melaka, untuk menaklukan negeri-negeri di daerah pedalaman, seperti Pagarruyung, Minangkabau dan negeri-negeri agraris lainnya.
Tanpa menggunakan kaca mata penaklukan dalam membaca Syair Ikan Terubuk, kita akan terperosok dalam sebuah langgam dan irama yang membosankan. Namun dengan mengaitkannya dengan upaya penaklukan pada masa itu, Syair Ikan Terubuk akan mempunyai nilai lebih terutama di tengah situasi di mana sebagian besar masyarakat selalu melihat pusat kekuasaan sebagai mimpi-mimpi yang tak teraih, bahan gunjingan, dan harapan yang selalu (disuntikkan) kepada anak-cucu agar suatu saat kelak mereka akan menjadi penglima yang memegang peranan penting dalam sebuah pusat kekuasaan.
(Ulul Azmi.2006)
Menurut Overbeck, syair jenis ini biasanya mengandungi sindiran terhadap peristiwa tertentu. Syair Ikan Terubuk dengan Puyu-puyu misalnya menyindir peristiwa peminangan seorang anak Melaka terhadap puteri Siak yang tidak berhasil. Syair ini mungkin diilhami oleh pelanggaran Melaka terhadap Siak. Syair Ikan Terubuk dengan Puyu-puyu ini berdasarkan naskhah v.d. Wall 242 di Jakarta.
Mula dikarang ikan terubuk,
Lalai memandang ikan di lubuk,
Hari dan jantung bagai serbuk,
Laksana kayu dimakan bubuk.
Asal terubuk ikan puaka,
Tempatnya konon di laut Melaka,
Siang dan malam berhati duka,
Sedikit tidak menaruh suka.

Dendam rindu inginkan ikan puyu-puyu sangat mendalam dan terubuk sering merindu siang dan malam. Lalu terubuk sering menyeru dan memuja puyu-puyu.Sebagaimana rangkap ke 4 dan 5;

Pagi petang duduk bercinta,
Berendam dengan airnya mata,
Kalbunya tidak menderita,
Kerana mendengar khabar berita.

Pertama mula terubuk merayu,

Berbunyilah guruh mendayu-dayu,
Senantiasa berhati sayu,
Terkenangkan puteri ikan puyu-puyu.

Dikatakan bahawa ikan puyu-puyu itu sangat cantik dan sangat berbudi bahasa. Ini dapat dilihat pada rangkap 6;

Puteri Puyu-puyu konon namanya,
Di dalam kolam konon tempatnya,
Cantik mejelis barang lakunya,
Patutlah dengan budi bahasanya.

Asal puyu-puyu dikatakan di Tanjung Padang. Ada pendapat mengatakan kawasan ini adalah di Pagar Ruyung Minangkabau di pulau Sumatera. Diceritakan juga gambaran rupa paras tuan puteri yang menyerupa puyu-puyu. Terubuk sangat tertarik dan sering memerhati keayuan wajah puyu-puyu;

Kolamnya konon di Tanjung Padang,
Di sanalah tempat Terubuk bertandang,
Pinggangnya ramping dadanya bidang,
Hancurlah hati terubuk memandang.

Asal usul puyu dikatakan keturunan raja. Dikatakan dia mempunyai keupayaan memuja dan berdoa. Sebarang pinta dan doanya akan dimakbulkan demi mengelakkan ancaman terubuk.

Rangkap 10;
Setelah hari hampirkan senja,
Puteri bersiap hendak memuja,
Jika sungguh asalku raja,
Disampaikan Allah barang disaja.

Rangkap 13;
Selang tidak berapa antara,
Turunlah ribut dengan segera,
Kilat dan petir tidak terkira,
Datuk nenek turun dari udara.
Puyu-puyu mendapat pertolongan berkat doanya yang telah dimakbulkan. Pertolongan tersebut telah menyelamatkan dirinya daripada ancaman terubuk yang sangat inginkan dirinya. Lalu dengan berkat datuk neneknya, maka datanglah pertolongan. Pertolongan telah datang dengan kewujudan sepohon pokok pulai yang rendang. Puyu dapat melompat keluar daripada kolam ke pucuk batang pulai. Maka terselamatlah puyu daripada ikan terubuk. Dapat dibuktikan pada rangkap ke 14 da 15,


Rangkap 14;
Membawa sepohon batangnya pulai,
Datangnya dari Tanjung Balai,
Eloknya tidaklah ternilai,
Puteri melihat hairan terlalai.

Rangkap 15;
Pulainya rendang dengan rampaknya,
Di tengah kolah terdiri dianya,
Sampailah waktu dengan janjinya,
Puteri melompat ke atas pucuknya.

Kehilangan puyu-puyu telah sampai kepada pengetahuan terubuk. Berita kehilangannya telah menyebabkan tuanku bersedih dan mengarahkan supaya segera mencari puyu-puyu. Hajat terubuk ingin bertemu puyu-puyu tidak kesampaian lalu kembalilah terubuk ke laut semula dalam keadaan kecewa sebagaimana rangkap 21;


Terubuk berenang lalu ke laut,
Sekalian ikan ramai yang mengikut,
Hati di di dalam terlalu kusut,
Bagaikan datang rasanya takut.
(Dedemukti.2015)
Di Propinsi Riau, ikan Terubuk sering  dijumpai di Kabupaten Bengkalis. Tapi tahukah kita, ikan migrasi ini mulai terancam punah. "Hasil kajian, saat ini hanya ada sekitar 200 ribu ekor saja. Ikan ini terancam punah. Menurutnya  ikan ini hanya bisa ditemukan di beberapa tempat saja di belahan dunia. Selain di Bengkalis, terdapat juga di Serawak Malaysia, Sungai Mekong Vietnam, Cina, Bangladesh hingga laut Arab. Selain jumlah mulai terbatas, ukuran ikan ini pun tidak lagi besar. Ia mencontohkan ikan terubuk di Bengkalis, rata-rata hanya berbobot setengah kilogram per ekor. Paling besar hanya berbobot 700 gram. Ikan ini memiliki pola hidup cukup unik. Sebagai hewan migrasi, ikan terubuk besar di laut. Namun saat pemijahan, ikan ini berpindah ke muara. Setelah berumur 30 hari, ikan-ikan ini akan ke laut dan kembali lagi ke muara seperti yang induk mereka lakukan. Ikan terubuk juga termasuk jenis hermaprodit. Setelah berumur enam bulan, seluruh ikan mulai berubah menjadi betina. Saat berumur setahun, semuanya sudah menjadi ikan betina. Bila bertelur, ikan ini bisa hasilkan 60 ribu-200 ribu sekali bertelur. Deni mengatakan, mulai punahnya ikan ini karena penangkapan saat mereka ke muara melakukan pemijahan. Bila satu ekor ikan saja ditangkap sebelum sempat melepaskan telur, maka potensi 60 ribu hingga 200 ribu telur akan langsung hilang.
Meskipun berpijah atau bertelur sepanjang tahun populasi ikan terubuk di Bengkalis saat ini berada di ambang kepunahan. Hal itu disebabkan oleh faktor lingkungan dan kebiasaan nelayan dalam menangkapnya. Nelayan akan menangkap ikan terubuk betina sekaligus dengan telur-telurnya. Sehingga kondisi ini akan menjadi penghalang bagi terubuk untuk terus berkembangan biak. Selain Kaviar ikan terubuk, masyarakat bengkalis juga menjadikan telur ikan terubuk sebagai terasi. Meskipun telah mencanangkan budidaya ikan terubuk pada awal tahun 2013 lalu, lajukepunahan ikan terubuk masih belum bisa ditahan oleh pemerintahan Bengkalis
Disamping itu, terubuk merupakan ikan yang sangat terkenal di Kabupaten Bengkalis. Ikan ini menjadi primadona dan kebanggaan masyarakat di daerah ini, sehingga Kabupaten Bengkalis dikenal dengan julukan Kota Terubuk, yang berarti TErtib, Rukun, Usaha Bersama dan Kenyamanan untuk mencerminkan keadaan daerah tersebut. Namun semenjak beberapa tahun terakhir, ikan ini sudah semakin sedikit ditemukan. Namun rakyat Bengkalis sangat mendambakan ikan terubuk kembali berjaya di perairannya. 
Untuk itu, upaya penyelamatan sekaligus pemanfaatannya perlu dilakukan sebelum ikan ini benar-benar hilang (punah). Di samping itu, ikan terubuk memiliki nilai-nilai sejarah bagi masyarakat di Kabupaten Bengkalis.
Pengelolaan secara terpadu dan holistik mulai dari Daerah Aliran Sungai (DAS) dan daerah tangkapan air (DTA) sampai pesisir di wilayah Bengkalis merupakan upaya yang sangat penting dalam rangka menyelamatkan ikan terubuk dari kepunahan. 
Hal ini disebabkan karena perlindungan terhadap ikan terubuk tidak dilakukan setiap bulan, melainkan hanya pada bulan-bulan tertentu (dari bulan Agustus hingga November) setiap tahunnya dan dalam setiap bulanyapun tidak setiap hari, melainkan hanya pada hari-hari tertentu saja. Yakni setiap tanggal 13, 14, 15 dan 16 kalender Hijriyah pada bulan terang dan setiap tanggal 28, 29, 30 dan 1 kalender Hijriyah pada bulan gelap.
Penetapan kawasan suaka perikanan ikan terubuk di Kabupaten Bengkalis dilaksanakan berdasarkan azas: manfaat, keadilan, kemitraan, pemerataan, keterpaduan, keterbukaan, efisiensi dan kelestarian yang berkelanjutan dengan prinsip pendekatan kehati-hatian, pertimbangan bukti ilmiah, pertimbangan kearifan lokal, pengelolaan berbasis masyarakat, keterpaduan pengembangan wilayah pesisir, pencegahan tangkap lebih, pertimbangan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan, yang pada akhirnya bertujuan untuk melindungi ikan terubuk dari ancaman kepunahan, memelihara keseimbangan dan kemantapan ekosistem dan memanfaatkan ikan terubuk secara berkelanjutan di perairan Selat Bengkalis.

DAFTAR PUSTAKA
Aswandi,Syahri. 2007. Kota Kara Dan Situs-Situs Sejarah Bintan Lama. Dinas Pariwisata
dan Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau.
Elmustian Rahman, dkk. 2003. Syair Ikan Terubuk Tinjauan Teks, Peristiwa Kelisanan,
Dan Struktur Upaya-Upaya Dialog Dengan Teks Simbolik-Romantik. Unri
Press. Kerjasama Pemerintah Kabupaten Bengkalis Yayasan Peduli
Negeri.
Azmi,Ulul.2006. Syair Ikan Terubuk. Yogyakarta:BKBPM dan Adicita






Tidak ada komentar:

Posting Komentar