Kamis, 16 Juni 2016

BIOGRAFI LAO TZU


MUTMAINAH / SAT/ 2A

Lao Tzu merupakan ahli filsafat yang terpopuler dan juga merupakan pendiri Taoisme kini. Riwayat hidupnya tidak banyak terdapat dalam catatan historis, tetapi kewujudannya terbukti dalam catatan historis Tiongkok, Shiji.
Ssu-ma Ch'ien dalam bukunya mengkaitkan Lao Tzu dengan dua nama yang dentifikasinya kurang lebih sama. Mereka adalah Lao-Lai Tzu , seorang Taois yang diperkirakan pernah dikunjungi oleh Konfusius, dan Lao Tan , seorang ahli astronomi. Ketiga nama yang berbeda ini, menurut Ssu-ma Ch-ien, adalah satu orang yang sama. Nama Lao Tzu dalam buku Ch-ien memang penuh dengan misteri yang di kemudian hari akan selalu menjadi diskusi yang tidak pernah selesai. Ia mengisahkan bahwa Lao Lai Tzu pernah dikunjungi oleh Konfusius. Setelah kunjungan tersebut, Konfusius mendapatkan pemahaman darinya tentang kehidupan yang lepas dari keangkuhan dan kemewahan duniawi semata saja. Ia pernah menasehati Konfusius untuk pensiun dari pekerjaannya di kerajaan. Lao Tzu juga disebut sebagai seorang tua, yang
biasa membawa sekeranjang rumput liar. Sebutannya seperti itu sering dikaitkan dengan asal kata namanya, yaitu Lao yang berarti orang tua dan Lai berarti merumput. Sedangkan mengenai Lao Tan, para ahli sampai sekarang ini masih belum sepakat apakah Lao Tzu dan Tan adalah orang yang sama atau bukan. Hal ini diketahuidari sejarah yang menceritakan Tan yang mengunjungi Pangeran Hsien dari Ch'in pada 374 SM. Beberapa ahli sejarah menyatakan Tan adalah Lao Tzu, namun ada juga yang menyangkal pernyataan ini. Dalam tulisan ini, tokoh Tan dimasukan karena masuk dalam penelitian Ssu-ma Ch-ien. Semasa mudanya, Lao Tzu pernah bertugas sebagai seorang pegawai kerajaan pada masa Dinasti Chou (1111-255 SM) di sebuah kantor penyimpanan dokumen-dokumen dan surat-surat kuno dan bersejarah. Dengan diterimanya di kantor seperti itu, dapat dipastikan kalau Lao Tzu merupakan seorang yang ahli dalam ilmu astrologi dan peramalan. Ia pun bertanggung jawab terhadap buku-buku suci dan rahasia. Dalam masa kerjanya, ia sudah mempraktekkan sebuah jalan hidup, yang kemudian dikenal sebagai aliran Taoisme. Keutamaannya merupakan buah dari refleksi hidupnya selama berada di dalam perpustakaan dokumen penting tersebut. Ia menekankan sebuah kehidupan yang jauh dari keinginan diri atau hasrat semata yaitu suatu kehidupan yang murni dan bersih. Pengetahuan seperti ini ia dapat dari pengalaman hidupnya yang kental dengan suasana kerjanya yaitu menekuni dokumen dan surat kuno. Ia ingin mengajak manusia kembali menghidupi Tao
Dalam masa pensiunnya, ia mempraktekkan prinsip jalan dan keutamaan tersebut. Ia semakin menjalankannya secara radikal yaitu dengan menjauh dari dunia dan hidup dihutan. Lewat usahanya tersebut, ia dapat hidup panjang dan ini merupakan buah dari usahanya menjalankan prinsip-prinsip kehidupan yang dibuatnya. Jalan Tao muncul karena suatu protes terhadap manusia yang sangat peduli pada dirinya sendiri, yang menurut Lao Tzu merusak dirinya sendiri. Contoh yang paling konkrit pada masa itu adalah perang. Perang sangat dibenci Lao Tzu karena perang sangat mementingkan diri penguasa saja. Rakyat dengan perang menjadi semakin tepuruk dan menderita. Tidak ada kebahagiaan dan kedamaian yang didapat dari peperangan Manusia memang harus menemukan kebahagiaan, bukan kesuksesan. Ini didiapat dengan mengikuti jalan Tao, bersatu dalam gerak Tao. Ssu-ma Ch'ien mengatakan bahwa Lao Tzu dalam hidup di jalan Tao juga merupakan seorang pribadi yang sangat asketis. Ia hidup menyendiri terpisah dari dunia yang ramai, mungkin di dalam gua, dengan menekankan prinsip hidup wu wei, yaitu kesederhanaan, penuh kedamaian, ketenangan batin, dan kemurnian pikiran atau budi
Menurut Lao Tzu, hidup mengikuti dunia dan berusaha memperbaikinya merupakan suatu penurunan atau kemunduran kehidupan. Ia menyatakan bahwa praktek hidup dalam jalannya bisa membantu memperbaiki kehidupan manusia di dunia ini. Maka ketika ia hendak pensiun, ia mengungkapkan praktek hidupnya tersebut di atas kertas sebanyak 5000-an kata. Usaha ini sebenarnya dibuat atas permintaan Yin-hsi, seorang penjaga gerbang. Ide yang tertuang dalam satu buku tersebut yang kemudian dipisah menjadi dua bagian, yaitu jalan (Tao) dan daya hidup (Te), yang merupakan refleksi Lao Tzu mengenai kehidupan dan cara menanggapi kehidupan tersebut. Buku ini kemudian dikenal dengan kitab Tao Te Ching. Isi kitab ini berupa prinsip-prinsip dan hukum-hukum untuk kehidupan manusia agar tetap selaras dengan sesama dan alam. Lao Tzu, secara psikologis, mengembangkan jalan Tao ini dikarenakan ia berkembang dalam dunia yang lemah dan tak berdaya. Lingkungan daerahnya yang miskin dan kecil mendasarkan ajarannya untuk bersikap lembut dan selaras dengan alam. Ia tidak mengajak pengikutnya untuk mampu mengintrospeksi diri dan kemudian memperbaiki apa yang telah diperbuatnya. Ia juga tidak mengajak orang untuk berjuang meraih impian di masa depan. Kesatuan dan keselarasan dengan alam adalah tujuannya. Dalam kesatuan tersebut kebahagiaan akan ditemukan. Solusi yang digunakan Lao Tzu dalam memperbaiki negara adalah menghindar dari struktur pemerintahan karena oknum-oknum dalam dinastilah sumber utama ketidakberesan. Merekalah yang menciptakan adanya peperangan. Menurutnya jalan hidup sederhana ini adalah solusi tepat agar dinasti bisa maju dan berkembang dengan saling menghargai dan menghargai martabat manusia. Pada waktu buku Tao Te Ching ini ditulis, Dinasti Chou memang sedang mengalami masa kemunduran. Jika dinasti ingin terus bangkit, dinasti harus mengurangi peranannya dalam masyarakat. Dinasti tidak boleh terlalu ikut campur. Biarkan saja segalanya berjalan seperti adanya. Nama Lao Tzu sebagai pribadi selalu dikenang sepanjang masa. Para konfusianis mengenangnya sebagai seorang filsuf yang dihormati, di mana Konfusius sendiri juga mengaguminya dan mengkonotasikannya seperti seekor naga yang dengan lihai terbang menembus awan dan angin. Masyarakat luas juga mengenangnya sebagai seorang suci atau dewa. Para Taoist sendiri menyatakan bahwa Lao Tzu adalah emanasi dari Tao.
GAGASAN-GAGASAN LAO TZU
Gagasan-gasan serta ide-ide Lao Tsu semuanya tertuang dalam karyanya yang dikenal dengan nama Tao-te-ching yang juga merupakan kitab terbesar Agama Tao. Isi kitab Tao-te-ching sendiri beberapa akan di bahas pada pembahasan selanjutnya (kitab suci agama Tao).Dan diantara Ide-ide Lao tzu bias di contohkan yakni konsep tentang Wu- Wei dan Yin Yang yang pembahasannya akan di bahas pada makalah selanjutnya.
KITAB SUCI AGAMA TAO
1.        Tao-te-ching
Tao-te-ching  atau kadang di eja menjadi Daodejing adalah nama sebuah kitab klasik penganut Taoisme. Ada yang mengartikan judul buku ini sebagai klasik tentang jalan kuasa. Ada juga yang mengartikan sebagai kita  hukum dunia dan kekuatannya. Judul lainnya judul lainnya adalah 5000 kata La-Tzu dan Laozi. Yang pertama menegaskan tentang pengarang kitab ini dan jumlah kata yang dikandungnya, yang dalam karakter China memang terdiri dari 5000 karakter. Judul kedua hanya menunjukkan kepada pengarangnya yakni Laozi yang berarti "guru tua". Tentu saja ini bukan nama sebenarnya tetapi samaran. Nama dirinya sebenarnya adalah Li Erh dan Lao-Tzu. Sedang nama dewasanya Lao-chun, T'ai-shang lao-chun, atau T'ai-shang Hsuan-yuan Huang-ti, juga disebut Lao Tunatau Lao Tan.
Kitab ini di tulis Lao-tzu pada  abad ke6 SM. Ada yang menyebutkan bahwa kitab ini muncul pada  pertengahan abad ketiga sebelum masehi. Pendapat ini di ajukan oleh sejarawan besar china, Ssu-ma Ch'ien di dalam karyanya shih-chi (laporan-laporan historis) yang menulis sekitar tahun 100 SM. Menurutnya, kitab ini ditulis pada masa dinasti Chou yang berkuasa mulai kira-kira 1111 SM dan berakhir pada 255 SM. Sedang menurut sejarawan modern, kitab ini mulai di kenal pada masa dinasti Han yang mulai berkuasa pada 206 SM hingga 220 M.
Tao-te-ching dapat di artikan sebagai kitab klasik atau kuno tentang jalan dan keluhurannya, dapat di bagi menjadi dua bagian. Bagian yang pertama menjelaskan tentang Tao yang diyakini ada dimana-mana dan asal mula dari segala sesuatu yang ada di alam ini. Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa Tao tidak dapat dibayangkan dan tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia. Sedangkan bagian kedua dari kitab tersebut adalah membicarakan tentang Te yaitu daya atau kekuatan yang diperoleh denganmengikuti Tao. Secara keseluruhan kitab ini terdiri dari 82 bab. Laozi mengungkapkan Tao melalui lirik yang indah dan puitis sehingga membangkitkan semangat para pembacanya. Tao –te-ching mengungkapkan konsep-konsep yang saling berhubungan satu dengan yang lainnyasecara sistematis, sehingga memberikan dasar pemahaman bagi semua orang.
2.    Chuang-Tzu
Cuang-Tzu atau Zuangzi merupakan kumpulan 33 bab esai yang terbagi menjadi tiga bagian: Bab Dalam (nei-p'ien), bab Luar (wai-p'ien) dan bab lain-lain (tsa-p'ien), sebagaimana banyak naskah kuno yang lain. Cuang-tzu yang kita miliki sekarang ini kurang lengkap. Kitab Chuang-tzu yang ada sekarang ini ada kemungkinan disatukan pada awal abad ke-4. Pada masa dinasti T'ang, status kitab ini terangkat ketika kitab ini menjadi satu dari tiga kitab klasik Tao, bersama dengan Tao-te-ching dan Lieh-tzu. Chaung-tzu dianggap para ahli sebagai karya ke dua dari filsafat Taoisme. Kitab ini diberi nama oleh pengarangnya pada abad ke4 SM, Zhuangzi (guru Zhuang), dan nama lain untuk Zhuangzi adalah Zhuang-zho. Kitab ini lebih banyak diperuntukan untuk rakyat jelata sebagai pedoman hidup mereka, ketimbang para penguasa. Zhuangzi yang juga di kenal sebagai nama pnulisnya, dikenal sebagai tokoh yang senag mewujudkan Tao yang tidak terbatas dalam dirinnya. Guna untuk mempertahannkan nilai-nilai kemanusiaan dalam hidup ini. Dia melihat realitas alam dan menggambarkan alam sebagai sesuatu yang tidak terbatas atau kekal yang ada dialam ini dengan cara berbeda-beda. Dia juga melihat bahwa perubaha-perubahan yang terjadi dalam hidup ini dan juga dalam kematian sebagai perpaduan dengan Tao atau tidak terlepas dari unsur Tao. Kitab ini juga berbicara tentang keabadian dan kekekalan hidup. Sedikit sekali kita mengetahui tentang seluk-beluk kehidupan Zhuangzi. Menurut Sima Qian, seorang sejarahwan dari Dinasti Han, Zhuangzi lahir satu abad setelah kematian Konfusius, pada periode Perang Antar Negara (403-221SM). Nama aslinya Zhou (Zhōu). Kadang namanya ditulis Chuang Tzŭ, Chuang Tsu, Zhuang Tze.Zhuangzi diperkirakan hidup pada jaman Raja Hui dari Liang dan Raja Xuan dari Qi, sekitar 370– 301 SM. Dia datang dari daerah Meng dimana dia bekerja sebagai serorang pejabat kecil. Karena ingin menarik diri kepada kehidupan pribadi, ia menolak tawaran Raja Wei Chu untuk menjadi perdana mentri. Semua ide-ide Zhuangzi menjadi sangat penting bagi tradisi keagamaan taoisme diseluruh Dunia. Pemikiran Zhuangzi yang tertuang didalam kitabnya (yang juga disebut kitab Zhuangzi atau Chuang-tzu) ditulis dalam 7 bab, sedangkan pemikiran yang lain ditulis sebanyak 26 bab yang barangkali karya dari murid-muridnya yang sangat cerdas dan sangat bijaksana.
3.        Lie-zi
Kitab lezi atau lieh-tzu, dianggap sebagai kumpulan cerita-cerita dan hiburan-hiburan dalam filsafat, kitab ini juga berisikan bahan-bahan yang ditulis selama 600 tahun (berkisar antara 300 SM sampai 300 M). dalam karya yang aslinya, kitab ini terdiri dari 20 bagian. Dari ke-20 bagian ini kemudian di dapatkan menjadi 8 bagian yang kita jumpai saat ini. Lebih kurang 100 tahun kitab ini tidak mendapat perhatian dari pengikut agama Tao, sebagaimana kitab Tao-te-ching dan Chuang-tzu. Ajaran-ajaran dalam kitab ini di anggap hanya untuk memahami agama Tao pada masa negri-negri yang berperang dan kebudayaan-kebudayaan yang berkembang pada awal kekuasaan dinasti Han. Kitab ini sampai ke generasi kita sekarang ini karena jasa besar cendikiawan dari dinasti Chin Timur, yang hidup pada tahun 317 sampai dengan 420. Dialah yang berjasa menyunting dan memberi komentar kitab ini sehingga menarik untuk dibaca orang banyak. Jika tidak ada usaha dari dia, maka barangkali kita sudah tidak bisa menemukan kitab ini dan selamanya tidak akan tahu isi kitab ini.
Lie Zi, nama aslinya Li Yu-Kou, adalah salah satu dari tiga bijaksanawan Taoisme: Lao Zi, Lie Zi dan Zhuang Zi. Lie Zi hidup pada jaman ?The Warring States? 476-222 sebelum Masehi. Ada pula yang mengatakan bahwa Beliau hidup diantara abad VII ? abad V sebelum Masehi. Lie Zi hidup sangat saderhana dan makanannya terdiri dari nasi dan sayuran selama kira-kira empat puluh tahun lamanya, sebagai bagian dari hidupnya. Orang tidak tampak beliau pergi dan datang karena Lie Zi dapat mengendarai angin. Sebetulnya ini hanya figurative, karena ketenangan jiwanya, sehingga dia berasa sebagai bagian dan kebersamaan dengan alam seperti gunung, sungai dan juga angin. Dia pernah berkata:? Tidak bicara sama sekali dan tidak mengetahui sama sekali.? Perkataan ini sebetulnya bernilai karena yang dimaksud oleh Beliau ialah: ?sebenarnya tiada satu yang orang tidak mengatakn dan tiada satupun orang yang tidak mengetahuinya.? Zhuang Zi dalam buku-bukunya mencatat Lie Zi, karenanya orang berpendapat Beliau hidup pada masa abad ke lima atau keempat sebelum Masehi di negara Cheng. Lie Zi hidup sebagai manusia biasa, karena Beliau hidup sebagai recluse (hidup menyendiri di desa) dan tidak mau menerima kedudukan pemerintahan dan sejarahnya hampir sama dengan Zhuang Zi. Waktu Lie Zi hidup sangat miskin dan susah untuk makan di negara Cheng, temannya mengatakan pada Perdana Menteri bahwa Lie Zi sudah mendapatkan tao, namun miskin dan tidak diketahui orang, dan minta agar Perdana Menteri meberikan bantuannya. Perdana Menteri memberi bantuan berupa gandum, tetapi Lie Zi dengan hormat dan halus menolaknya. Istrinya sangat marah dan mengatakan bahwa orang-orang bijaksana hidup nyaman dengan keluarganya, tetapi mereka hidup kelaparan. Bagaimana kau bisa menolaknya? Lie Zhi bersenyum  dan mengatakan, kalau dia mendapatkan kehormatan atas usul orang lain, maka juga bisa terjadi orang lain bisa mengutuk dia. Lama kemudian Perdana Menteri lengser karena tercela dan karena opini massa dia dihukum mati.

DAFTAR PUSTAKA
 Ihsan Tanggok.2006.Mengenal Lebih Dekat Agama Tao.(Jakarta: uin Jakarta Press)..

 Lao tse.2010.Tao Te Ching -81 filsafat hidup Tao.(Yogyakarta: new Diglossia Yogyakarta).

Windar Santoso, SJ. http://winsig-cina.blogspot.com/2007/04/lao-tzu-sebagai-pribadi.html selasa, 20 Maret2012, pkl. 16.00

Husthon smith.agama-agama manusia (trjemahan). jakarta: yayasan obor indonesia, 1991



https://dewiiifatiah.wordpress.com/2012/05/21/riwayat-hidup-lao-tse-dan-kitab-suci-agama-tao-39/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar