Rabu, 15 Juni 2016

Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing


Andriko Aprillinata/S.A.T/015A

          Kaisar Kangxi lahir 4 Mei 1654, meinggal 20 Desember 1722 pada umur 68 tahun adalah kaisar Dinasti Qing keempat dan Kaisar Tiongkok kedua dari bangsa Manchu yang memerintah pada tahun 1661 sampai 1722. Kangxi dikenal  sebagai saah satu kaisar terbaik yang pernah dimiliki Tiongkok karena selama masa pemerintahannya Tiongkok berkembang esat dalam kebudayaan maupun militer, rakyat pun hidup dalam kedamaian. Pada masa itulah Tiongkok menjadi kekaisaran terbesar di dunia dengan wilayah terluas, populasi terbanyak, pasukannya kuat serta kekayaannya berlimpah. Masa pemerintahannya yang berumur 61 tahun menjadikannya sebagai kaisar yang paling lama bertahta dalam sejarah Tiogkok. Ia mewarisi tahta pada usia 7 tahun pada tanggal 7 Februari 1661, 12 hari setelah ayahnya meninggal dunia, walaupun pemerintahan Kangxi secara resmi dimulai tanggal 18 Februari 1662 yaitu pada hari pertama tahun bulan berikutnya, dalam usianya yag masih sangat dini itu, dia didampingi oleh keempat walinya dan neneknya, Ibusuri Xiaozhuang, yang banyak berpengaruh dalam kehidupannya [1]

Kehidupan awal
          Kangxi terlahir dengan nama Aisin Gioro Xuanye adalah putra ke 3 Kaisar Shunzhi dari selirnya yang bernama Ratu Xiao Kang, seorang Han Cina. Pada tahun 1661, ayahnya yaitu Shunzhi meninggal dunia dan mewariskan tahta padanya. Sebelumnya Shnzhi telah menunjuk Suoni, Ebilong, Sukesaha, dan Aobal sebagai wali utuk membantu Kangxi yang masih anak-anak untuk menjalankan roda pemerintahan. Tapi keempat walinya itu tidak pernah akur dan saling berebt kekuasaan. Dantara ke empat wali tersebut, Aobal
adalah yang paling ambisius. Ia menjadi wali tunggal bagi Kangxi setelah kematian Suoni dan menggiring Sukesaha untuk dihukum mati, serta Ebilong menyaakan tunduk padanya. Tahun 1669, dalam usianya yang ke 14, Kangxi memutuskan untuk memeritah secara independen. Dengan bantuan Ibusuri Xiaozhuang, ia menjebak Aobal dan menjebloskannya ke penjara. Sejak itu Kangxi baru bisa memerintah secara mandiri. Kangxi adalah seorang yang giat bekerja, bangun pagi dan tidur malam, membaca dan menaggapi banyak peringatan setiap hari, berdisksi dengan penasihat-penasihatnya dan mengadakan pertemuan. [2]
          Musim semi 1662, Kangxi mengadakan pembersihan besar-besaran di Tiongkok selatan terahadap gerakan-gerakan separatis anti Qing yang dimotori oleh loyalis Ming, Zheng Chenggong. Program ini meliputi pemindahan seluruh populasi didaerah pesisie selatan Tiongok. Kangxi mempunyai karakteristik yag besar dan bijaksana, serta mempunyai kecakapan dalam memanagemen. Pada awal mulanya Kangxi telah berhasil menghancurkan lawan-lawannya. Pada masa awal pemerintahannya pada tahun 1673, meletuslah Pemberontakan Tiga Raja Muda yang dipimpin oleh para mantan jenderal Dinasti Ming yang membelot. Pemberontakan ini dalam sejarah Cina dikenal dengan nama "Pemberontakan San Fu" (Pemberontakan Tiga Raa Muda), yakni : Pemberontakan Wu San Kuei di Canton; Pemberontakan Keng Ching Chung di Fukien; Pemberontakan Shang Chi Hsin di Kwangtung. Pemberontakan tersebut akhirnya dapat dihancurkan oleh Kangxi pada tahn 1681 [3]. Wu San Kuei, yang terkuat di antara mereka telah menguasai sebagian besar wilayah selatan dan bersekutu dengan para panglima lokal di sekitarnya. Untuk menghadapinya, Kangxi mempersatukan para pejabatnya utuk mendukung dalam perang itu, dia juga merekrut jenderal-jenderal yang mampu untuk menumpas pemberontakan. Selain itu ia memberikan pengampunan pada para tawanan perang. Strategi yang diterapkan Kangxi adalah menundukkan ketiga raja muda ini satu-persatu secara terpisah hingga akhirnya pemberontakanini berhasil ditumpas pada tahun 1681 dengan dikalahkannya Wu Shifan, cucu dari Wu Sangui. [4]
          Kangxi menumpas pemberontakan oleh suku-suku di Mongol dalam dua buan dan memasukkan mereka dalam Pasukan Delapan Bendera. Setelah Zheng Keshuang (cucu Zheng Chenggong) menyerah, pemerintah Qing menganeksasi Taiwan tahun1684, dengan demikian Tiongkok telah dipersatukan. Tidak lama setelah itu, wilayah pesisir kembali diisi. Untuk mendorong berkembangnya pemukiman, pemerintah Qing memberikan dana insentif kepada setiap keluarga yang bermukim disana. Dalam hubungan diplomatik dengan negara lain, tahun1673, Kangxi beperan sebagi mediator dalam gencatan senjata dalam Perang Trinh-Nguyen di Vietnam. Perang antara dua klan itu telah menoyak-ngoyak Vietam selam 45 tahun, denga adanya gencatan senjata ini perdamaian berlangsung selama 101 tahun.

Konflik dengan Rusia
          Sejak abad XVI, kekaisaran Rusia berusaha memperluas wilayahnya ke selatan. Tentara mereka memasuki wilayah Heilongjiang. Disana mereka merampok dan membunuhi rakyat, sejak tahun 1650an Tiongkok dan Rusia telah beberapa kali terlibat peperangan di sana. Pemerintah Qing mengirim tentaranya dari Terusan Shanhai untuk memerangi pasukan Rusia. Pos terdepan Rusia di Albazin adalah pos militer pertama mereka yang direbut Tiongkok pada tahun 1685. Setelah serangkaian pertempuran dan negosiasi, kedua negara akirnya menandatangani Traktat Nerchinsk tahun 1689. Dalam perjanjian tersebut Tiongkok dan Rusia mencapai enam kespakatan yaitu: ditetapkannya perbatasan antar dua negara; pembongkaran benteng Albazin; membuka perdagangan antar dua negara; pengekstradisian kriminal perang dan desertir; pemberian ijin menetap bagi warga negara asing yang ingin bermukim; dan melupakan kesalahan-kesalahan masa lampau. Tiongkok juga mendapatkan daerah lembah Amur (Heilongjiang) dari perang ini.

Ekspedisi hukuman atas Mongol
          Ketika zaman itu, Mongolia terbagi atas tiga wilayah yaitu: Mongolia Selatan, Utara dan Barat. Mongolia Selata telah dianeksasi dan menjadi bagian dari Tiongkok, sementara dua lainnya juga telah tunduk dan mengirim upeti tahunan kepada Tiongkok. Saat itu, suku Dzugar dan Khalkha sedang terlibat konflik. Pada tahun 1688, kepala suku Dzugar, Galdan Tseren mengirim pasukan untuk menginvansi wilayah suku Khalkha. Pemimpin Khalkha, Jetsundamba Khutughtu meminta bantuan pada Kerajaan Qing Tiongkok, maa terjadilah pertempuran yang pada saat itu pasukan Tiongkok kalah oleh Dzugar.
          Maka pada tahun 1696, Kangxi secara pribadi memimpin 80.000 pasukannya untuk membalas dendam atas kekalahan 6 tahun silam. Mereka mengalahkan Galdan dalam Pertempuran Dsuunmod. Galdan melarikan diri  ke Pegunungan Altau dimana ia meninggal tahun berikutnya. Namun suku Dzugar masih merupakan ancaman bagi Tiongkok, terutama setelah mereka menduduki Lhasa, Thibet tahun 1706. Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan Dzgar akirnya tunduk dan takhluk pada tahun 1720. [5]

Prestasi Kangxi
          Kiangxi dianggap sebagai salah satu teladan penguasa yang ideal. Ia berusaha keras meminimalkan konflik antara etnis Han dan Manchu yang merupakan isu utama pada masa awal Dinasti Qing. Ia memperkerjakan banyak orang Han dalam berbagai tingkat jabatan. Ia juga mecabut kebijakan pada masa pemerintahan ayahnya yang menetapkan bahwa hanya jabtan gubernur dan kepala daerah harus dipegang oleh orang Manchu. Baginya mempelajari sejarah dan budaya Han Tiongkok adalah hal yang penting agar lebih mengerti tentang mereka dan memperlancar urusan-urusan administratif. Ia sering memantau kehidupan rakyatnya dengan terjin ke tengaj mereka dengan berpakaian sipil, dengan demikian ia dapat melihat secara langsung kondisi kehidupan rakyat jelata.
Walaupun ia orang Manchu, Kangxi mampu menguasai bahasa Mandarin dengan baik, ia juga menguasai filsafat Konfusius dan hafal karya-karya klasik Tiongkok. Hal inilah yang dipakainya sebagai senjata ideologi untuk mengambil hat orang Han. Perilakunya yang teladan ini menjadi contoh bagi orang Manchu lainnya sehingga mulailah mereka berorientasi diri mereka sebagai orang Tionghoa asli.
Dalam bidang ekonomi , ia lebih menitikberatkan dalam bidang pertanian. Ia banyak membuka tanah-tanah pertanian baru, dan kepada para petani diberikan bantuan antara lain: bibit, perkakas pertanian dan bahkan mendapat bibingan dari ahli-ahli pertanian. Pengairan diperbaiki, mengadakan pengeringan rawa-rawa dan juga menandaskan penanaman pohon Murbei [6]. Dalam bidang pertanian, ia mengeluarkan titah bahwa tanah pertanian tidak boleh digunakan untuk tujuan lain selain untuk pertanian itu sendiri. Tanah-tanah milik bangsawa Ming dikembalikan pada kaum petani dan para bangsawan Manchu diperintahkan agar berhenti merampas tanah milik orang Han. Pengurangan dan pembebasan pajak dalam jangka waktu tertentu diterapkan di beberapa daerah yang terkebelakang atau terkena bencana alam. Dengan kebijakan demikian, rakyat merasa sangat diuntungkan dan perekonomian meningkat pesat pada tahun-tahun berikutnya. Namun titah tersebut sangat sulit dijalankan karena Kangxi sendiri sangat risau dan lelah dalam mengurus masalah intern kerajaan tentang anak-anaknya yang saling bersaing merebut kursi naga dan berkomplot dengan para pejabat denga membentk fraksi-fraksi sendiri. Akhirnya titah tersebut baru bisa diterapkan ppada masa anaknya bertahta yaitu Kaisar Yongzheng.
Kangxi juga mengumpulkan orang-orang terpelajar untuk menyunting Kamus Kkangxi yaitu sebuah kamus aksara Tiongkok/ Hanzi terlengkap yang pernah dibuat , ia menulis kaa penganta untuk kamus itu. Ia juga seorang yang tertarik dengan musik dari Barat, ia dapat menyanyikan lagu-lagu barat dan menjadikan kaisar Tiongkok pertama yang memainankan alat musik barat yaitu piano. Dia menyunting sebuah buku mengenai perbandingan instrumen musik Tiongkok dengan barat yang berjudul Lu Lu Zheng Yi Pian.
Kebesaran Kangxi bukan hanya dibidang politik / pemerintahan, akan tetapi juga tampak dalam bidang ilmu pengetahuan dan kesusasteraan. Selain itu, ia sendiri juga seorang sastrawan. Hasil karyankangxi yang terkenal ialah :
1.        Menyusun suatu Ensiklopesia, yang memuat kutipan-kutipan buku-buku penting. Ensiklopedia ini terdiri dari 5.000 jilid.
2.        Menyususn Kitab Logat yang disebut dengan nama "Kangxi  Tse Tien" (Kitab Logat Kangxi).
3.        Sebagai seorang pelindung sastra dan seni, ia menulis cerita "Impian di Paseban Merah (The Dream of Red Chamber) atau Hung Lem Meng.
4.        Ia juga mengeluarkan Edic Suci, yang berisi tentang peraturan-peraturan kebijaksanaan bagi bangsa Tionghoa. Edic Suci ini merupakan pegangan hidup karena berisi dasar-dasar pemerintahan dan cara-cara hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[7]

Krisis suksesi
Wasiat Kangxi adalah salah satu dari tiga misteri besar Dinasti Qing. Hingga hari ini, para sejarawan masih memperdebatkan siapa sebearnya yang dipilih Kangxi sebagai penerusnya. Walau pada akhirnya yang menjadi kaisar berikutnya adalah pangeran ke4 yaitu Yinzhen yang naik tahta sebagai Kaisar Yongzheng, setelah bahwa Yinzen memalskan wasiat Kangxi dan yang dipilih Kangxi sebenarnya adalah pangeran ke14 yaitu Yinti, kemudian sejarawan Cina mengkaji bahwa wasiat itu adalah benar apa adanya yaitu Pangeran Yinzhen Benar penerus tahta Kangxi, dengan alasan sebagai berikut:
·           Surat wasiat Kangxi tersebut tidak mungkin di ganti huruf kanjinya karena sangat tidak sesuai dengan tata bahasa dan kebiasaan menulis pada zaman itu.
·           Huruf kanji Cina sangatlah tidak mungkin untuk ditambah satu goresan maupun lebih, karena akan terlihat hasil dari pengeringan tinta tersebut sendiri.
·           Sejarah telah menulis Kaisar Kangxi telah dua kali menobatkan dan juga dua kali juga mencabut hak mahkota pangeran Yinreng dikarenakan masalah Psikologis serta ketidakmampuannya.
·           Kaisar  Kangxi sangatlah mengerti keadaan bahwa seluruh pangeran dan pejabat saling berkomplot dan membentu kelompok-kelompok sendiri yang hanya mempunyai ambisi dan merebut tahta kerajaan, sehingga reformasi pemerintahan yang akan dijalankan Kangxi menjadi sangat terhambat.
Kangxi memiliki 35 orang putra, 20 diantaranya mencapai usia dewasa. Putra slungnya, Yingzhi hanya anak serang selir rendahan, maka ia tidak berhak atas tahta. Orang yang pertama kali dicalonkannya sebagi putra mahkota adalah Yinreng, putra hasil pernikahannyan dengan permaisurinya yang pertama, Xiaocheng. Sementara pangeran lain tumbuh dibawah didikan para gurunya masing-masing, Kangxi menyempatkan diri membesarkan Yinreng secara pribadi dan menaruh harapan besar padanya untuk menjadi penguasa yang sempurna, yinreng sendiri didik oleh guru kerajaan beretnis Han yaitu Wang Shan, seorang yang setia padanya dan memperjuangkan status putra mahkotanya hingga tahun-tahun terakhir kehidupannya. Sayangnya pangeran ini menghancurkan harapan ayahnya. Dia memiliki reputasi yang buruk, sering memukul dan membunuh bawahannya sembarangan dan terlibat perselingkuhan dengan beberapa selir ayahnya. Selain itu ia perna membeli anak-anak dibawah umur untuk wilayah Jiangsu sebagai pemuas nafsunya.
Selama bertahun-tahun Kiangxi terus mengawasi kelakuan calon penerusnya itu berkali-kali memperingatkannya agar berhenti dari perbuatan tercelanya. Banyak orang berpendapat bahwa Dinasti Qing akan hancur bila Yinreng menjadi kaisar. Pada tahu 1707, akhirnya Kangxi memutuskan untuk mencabut status putra mahkota Yinreng karena tidak tahan lagi dengan kelakuannya yang dikatakan dalam titah kerajaanya sebagai sesuatu yang terlalu memalukan untuk dibicarakan.
Yinreng kehilangan hak warisnya dan dikenai tahanan rumah dibawah pengawasan kakaknya,Yinzhi. Yinzhi merasa ayahnya telah menaruh kepercayaan padanya dan mencalonkannya sebagai putra mahkota. Ia beberapa kali berusaha membuat Yinreng makin terpuruk, bahkan sampai mengguna-gunainya. Ia bahkan meminta izin pada Kangxi untuk menghukum mati Yinreng. Tindakannya ini membuat Kangxi marah sehingga Yinzhi bukan saja kehilangan kesempatan untuk menjadi putra mahkota, gelar-gelar lainnya pun dicabut.
Sejak itulah putra-putra Kangxi terpecah menjadi beberapa fraksi yang saling bertikai, mereka mencari muka di depan ayahnya untuk merebut status putra mahkota yang sedang kosong. Dari semua pangeran, Yinsi yaitu pangeran ke 8 adalah kandidat terkuat yang diperkirakan akan menjadi kaisar setelah Kangxi, banyak pejabat dan keluarga mendukungknya.

Akhir hayat
Catatan resmi mngatakan pada tanggal 20 Desember 1722, Kangxi yang telah menjelang ajal memanggil putra-putranya yaitu pangeran ke 3,4,8,9,10,16 dan 17. Setelah wafat, Longkeduo, komandan pengawal kekaisaran yang juga saudara iparnya, mengumumkan wasiatnya bahwa yang menjadi kaisar berikutnya adalah Yinzheng pangeran ke4. Suatu hal yang tidak pernah diduga oleh siapapun karena Yinzhen adalah putra yang tidak disenangi oleh hampir seluruh pejabat kerajaan ibukota, dan daerah, dikarenakan sifatnya yang tegas dan tidak pandang bulu pada para pejabat yang melakukan kesalahan. Setelah itu Yinti yang diperkirakan menjadi kaisar berikutnya masih sibuk berperang di Xinjiang. Ia baru tiba di ibukota beberapa hari setelah ayahnya wafat dan saat itu Yinzhen telah dinobatkan sebagai kaisar. Kangxi dimakamkan di kompleks pemakaman kaisar Qing di Dongling, kabupaten Zunhua, Hebei. Disana juga dimakamkan empat orang permaisuri dan 51 orang selirnya.


Daftar pustaka:
Asril. Sejarah Cina Pra Sejarah-Kontemporer
Chunjiang, "Chinese History: Ancient Chia to 1911", Singapore: Asiapac Books, 2005
Cheng Qimhua, Tales of the Forbidden City. Beijing: Foreign Languages press, 1997

[1] Sejarah Dinasti Qing diakses pada 11 juni 2016
[2] Fu Chunjiang, "Chinese History: Ancient Chia to 1911", Singapore: Asiapac Books, 2005
[3] Asril. Sejarah Cina Pra Sejarah-Kontemporer, hal 64-65
[4] Cheng Qimhua, Tales of the Forbidden City. Beijing: Foreign Languages press, 1997.
[5] Biografi Kangxi http://id.m.wikipedia.org/wiki/Kaisar_Kangxi diakses pada 11 juni 2016
[7] Asril. Sejarah Cina Pra Sejarah-Kontemporer, hal 65-66

Tidak ada komentar:

Posting Komentar