Rabu, 15 Juni 2016

Pawang Mati Tak Berkubur , Upacara Daur Hidup Suku Melayu di Kota Dumai

 
Nurul elnica/ b/PBM


TAK MELAYU HILANG DI BUMI
PAWANG MATI TAK BERKUBUR
BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA
(Hang Tuah )
            Dalam disiplin ilmu antropologi budaya, kebudayaan dan budaya itu diartikan sama (Koentjaraningrat, 1980:195). Namun dalam IBD dibedakan antara budaya dan kebudayaan, karena IBD berbicara tentang dunia idea tau nilai, bukan hasil fisiknya. Kebudayaan ataupun yang disebut peradaban, mengandung pengertian luas, meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hokum, adat-istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat (Taylor, 1897:19).
Kebudayaan tidak dapat di pisahkan dari asal usul pendududk di suatu daerah dan pula tidak dapat dipisahkan dari keadaan giografis dan alam sekitarnya. Manusia mendukung kebudayaan, sedangkan alam membentuk dan memebrfikan corak atas kebudayaan itu, hal inilah yang mendorong manusia malakukan
kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup serfta mempertahankan hidupnya. Menurut Kleden (Kuntjaraningrat, 1985:12) menyebutkan bahwa "kebudayaan selalu berproses untuk menerima perubahan dan mengembangkan identitasnya, yang lebih jauh dijelaskan bahwa perubahan dapat dilihat dari sistim pengetahuan dan sistim makna ( system of meaning ) yang memberi warna kepada perubahan kebudayaan dalam bentuk penerimaan pengetahuan dan kerangka makna yang baru"
                        Nama Dumai dipercaya berasal dari cerita Puteri Tujuh. Salah satu petikan cerita yang mengukuhkan kepercayaan mengenai asal-usul nama Dumai adalah: "Gadis cantik di Lubuk Umai... cantik di Umai. Ya, ya... Dumai... Dumai..." Kata-kata itu terus terucap dalam hati Pangeran Empang Kuala. Dalam perkembangannya, Dumai kini merupakan kota besar kedua setelah Pekanbaru di Riau. Pelabuhan lautnya merupakan pelabuhan masuk bagi arus wisatawan dari dalam dan luar negeri maupun ekspor dan impor barang. Dumai mulai berkembang sejak Caltex membangun pelabuhan minyaknya pada tahun 1956. Sejak itu, perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 50 tahun telah membawa perubahan dalam kehidupan masyarakatnya. Modernisasi yang masuk bersamaan dengan masuknya industrialisasi sedikit demi sedikit telah menjauhkan masyarakat setempat dari praktik-praktik tradisional mereka dan menggantikannya dengan hal-hal baru yang dianggap lebih maju dan modern. Kota Dumai menjadikan kebudayaan Melayu sebagai roh pembangunan di wilayahnya. Dumai semakin berkembang setelah dibangunnya jalan darat menuju Pekanbaru dan kota-kota lain di Sumatera. Bahkan, kehidupan khas kota besar mulai menjamur.

Ranah kebudayaan juga tidak hanya sebatas seni tari, busana, sastra dan kuliner meski di sebuah daerah mungkin lebih banyak warisan budaya, kegiatan dan karya terkait seni tari, busana, sastra dan kuliner. Pengembangan dan pembinaan kebudayaan juga tidak semata-mata terfokus pada penyelenggaraan kegiatan-kegiatan saja meski dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan terkait atraksi budaya terdapat dampak-dampak positif dalam menumbuhkembangkan semangat mengenal dan mencintai kebudayaan. Menurut Tonel (1920): "Adat Melayu pada mulanya berpangkal pada adat-istiadat Melayu yang digunakan dalam negeri Tumasik, Bintan, dan Malaka. Pada zaman Malaka, adat itu menjadi Islam karena rajanya pun telah memeluk Islam".

                        Dr. (HC) H. Tenas Effendi saat menjadi pemakalah pada seminar Perpuisian Melayu Nusantara Mutakhir dengan Tema Menggali Nilai Kearifan Puisi Melayu di Seminar Internasional Perpuisian Nusantara dari Hulu hingga Hilir (Perspektif Filosofis, Historis, dan Eksistensi) dalam Pertemuan Penyair Nusantara VI, 28-30 Desember 2012 di Jambi, menyebutkan perlu adanya cara pewarisan nilai-nilai budaya khususnya dalam konteks perpuisian Melayu yang baik dan sistematis kepada generasi muda saat ini. Pada tataran kebudayaan yang lebih luas tidak sebatas pada ruang lingkup sastra maka apa yang dinyatakan oleh tokoh adat dan budayawan Riau tersebut memang benar dan patut dicermati oleh berbagai pihak di Kota Dumai.
                        Dalam masyarakat orang Melayu di kota Dumai dikenal beberapa jenis upacara tradisional yang masih ditaati oleh anggota masyarakatnya. Jenis-jenis upacara tersebut pada garis besarnya adalah upacara kelahiran, upacara perkawinan dan upacara kematian. Upacara daur hidup masyarakat orang Melayu di Kota Dumai ada 7 jenis, yaitu :

1. Upacara Kehamilan Mengapa upacara kehamilan dilakukan oleh masyarakat orang Melayu Riau di kota Dumai?
Keyakinan orang Melayu Riau Lautan beranggapan bahwa :
a. Anak merupakan karunia Tuhan yang harus dihargai dan dijunjung tinggi.
b. Anak merupakan pusaka abadi dunia dan akhirat.
c. Setiap anak yang lahir membawa tuahnya masing-masing yang menyebabkan kehidupan orang tuanya lebih baik.
d. Anak merupakan perlindungan masa depan pada saat diperlukan bantuan.
Tujuan pelaksanaan upacara kehamilan adalah antara lain :
a. Memohon kepada Tuhan agar perempuan yang hamil selamat sentosa, terhindar dari gangguan roh-roh halus.
b. Mengusir makhluk – makhluk halus yang selalu diakhiri dengan doa
c. Menjaga anak yang sedang dikandung agar tumbuh dan berkembang jasmani dan rohaninya
     secara normal
d. Agar selamat dan mudah dalam melahirkan dan anak yang dilahirkan menjadi anak yang
     sempurna. Salah satu jenis upacara kehamilan yang dilakukan setelah kehamilan berusia 7
     (tujuh) bulan.maksud upacara menempah bidan, adalah untuk membuat ikatan / janji dengan
     bidan yang tempah itu. Biasanya bidan itu yang mengasuh perempuan hamil itu. Bidang t
     ersebut yang datang secara teratur memeriksa kesehatan dan anak dalam kandungan.
                        Alat – alat yang digunakan dalam upacara menempah bidan adalah tikar, paha, tepak sirih lengkap dengan isinya, yaitu susunan siri, kapur, piring, gambir, tiga buah jeruk nipis yang serangkai. Apabila upacara menempah bidan dilakukan untuk pertamakali atau hamil sulung, maka alat –alat tersebut dilengkapi dengan kain tudung hiding disertai dengan bedak lengir dan sebuah batu giling. Setelah upacara selesai, maka utusan keluarga yang hamil menuju ke rumah bidan membawa segala kelengkapan yang ada tersebut ditemani oleh seorang anak laki – laki. Arti dari alat – alat upacara kehamilan tersebut adalah :
a. Paha, adalah sejenis talam berkaki dan berukir pinggirnya terbuat dari tembaga.
b. Tudung Hidang, adalah penutup sajian yang dibuat dari perca ( potongan kain) yang beraneka
     ragam warna, dibagian tengahnya disulam dengan benang emas atau perak.
c. Bedak Langir, adalah alat yang dipakai dalam upacara mandi yang terbuat dari beras giling
     dan jeruk nipis.
d. Batu giling, sebuah penggiling yang berbentuk bulat panjang dibuat dari batu dan dipegang di
     kiri kanannya, apabila menggiling.

2. Upacara Melahirkan
            Upacara melahirkan adalah merupakan upacara – upacara yang adalah karena bagi masyarakat orang Melayu Riau lautan orang yang melahirkan sama halnya dengan orang yang pergi berperang. Dalam peperangan itu bertarung dengan maut, ia hanya menghadapi dua kemungkinan, yaitu hidup dan mati. Besarnya tantangan dan resiko yang dihadapi oleh seorang ibu yang melahirkan upacara melahirkan.
            Tujuannya adalah sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa, karena seorang ibu telah selesai dan selamat dalam melahirkan bayinya. Tujuan pelaksanaan upacara melahirkan adalah :
a. Untuk menghalau sejenis hantu atau setan penghisap darah orang perempuan yang
     sedang melahirkan.
b. Memohon kepada Tuhan agar orang yang melahirkan mendapat selamat dalam
     melahirkan bayinya.
     Bentuk upacara melahirkan yang dilaksanakan oleh masyarakat Melayu di Kota Dumai berupa :
a. Persiapan menyambut kelahian bayi, yaitu menyiapkan rumah tempat melahirkan.
b. Meletakkan alat – alat, benda – benda yang dipakai dalam upacara melahirkan.
c. Menunggu saat melahirkan, apabila saat melahirkan tiba ada dua bidan yang disebut bidang bawah dan bidan atas adalah memandikan ibu, mengganti pakaian ibu. Sedangkan bidan bawah tugasnya memandikan bayi, merawat pusat dan perut agar tetap panas sehingga terhindar dari penyakit perut.


3. Upacara Hari Tanggal Pusat Upacara
             Hari tanggal pusat adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan setelah beberapa hari melahirkan. Kedua bidang secara teratur datang ke rumah untuk merawat ibu dan bayi. Tugas bidan atas adalah memandikan ibu, mengganti pakaian ibu. Sedangkan bidan bawah tugasnya memandikan bayi, merawat pusat dan perut agar tetap panas sehingga terhindar dari penyakit perut sekali sehari. Pelaksanaan hari tanggal pusat biasanya dilakukan beberapa kegiatan, yaitu :
a. Pembuatan lubang tempat penanaman temubuni.
b. Di dasar lubang diletakkan sekeping papan yang berfungsi sebagai alas.
c. Setelah lubang selesai digali kedua bidan diberi tahu
d. Bidan mempersiapkan alat-alat yang akan dipakai ketika penanaman tembuni, yaitu
     pernik berisi tembuni yang ditutupi dengan sebuah tempurung kelapa yang berlubang
     di tengah-tengah, yang disebut tempurung jantung. Pada lubang tempurung jantan
     ditancapkan sepotong bamboo yang disediakan sebagai corong udara.
e. Meletakkan tembuni di atas sebuah penampan bersama 2 (dua) batang lilin dan
     sebungkus/sekotak korek api. Ketika itu membaca doa-doa tertentu turun dari rumah
     membawa penampan, berjalan perlahan tidak melihat ke kiri atau ke kanan menuju
     lubang yang telah disediakan.
f. Meletakkan tembuni ke dalam lubang dan menimbun lubang tersebut dengan tana.
     Bamboo yang ditancapkan pada lubang kelapa dibiarkan menonjol ke atas tanah.
g. Lilin dinyalakan, ditegakkan di kiri-kanan timbunan tanah lubang tembuni.
h. Selesai acara penanaman tembuni kembali kerumah tidak boleh melihat kiri kanan.
     Kepercayaan orang melayu Dumai apabila sedang melakukan upacara penanaman
     tembuni menoleh ke kiri dank e kanan akan berakibat mata bayi juling.
 i. Selesai
     upacara penanaman tembuni diakhiri dengan makan bersama semua undangan yang
     hadir dan pembacaan doa selamat oleh seorang ahli pembaca doa.

4. Upacara Mencuci
     Lantai Maksud upacara mencuci lantai adalah untuk menyatakan :
a. Ibu dan bayi
     dalam keadaan sehat.
b. Ibu keadaan fisik dan sosialnya telah sehat.

            Sedangkan tujuan upacara mencuci lantai adalah :
a. Untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada segenap sanak keluarga dan kaum
     kerabat terutama kepada kedua bidan.
b. Untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
     kurnia, sehingga selamat melalui peristiwa melahirkan yang sangat kritis sekaligus
     membahagiakan. Ibu dan bayi biasanya berpakaian yang baru dan rapi.
           
            Adapun kegiatan upacara antara lain adalah :
a. Bidan membaca doa –doa tertentu, menyembur ke kiri dan kekanan.
b. Diambil ayam, dipegang kepala ayam, perlahan – lahan kakinya dicakarkan ke lantai, ke depan, ke kanan, ke kiri dan dilakukan sebanyak 7 (tujuh) kali.
c. Jari tangan dimasukkan kedalam mulut ayam. Langit – langit mulut ayam ditekan dengan ibu jari. Ibu jari kemudian ditekankan kepada bagian dahi bayi sebanyak tiga kali. d. Paruh ayam digoreskan kepada dahi bayi sebanyak tiga kali.
            Upacara mencuci lantai adalah :
a. Kepala yang telah dibersihkan kulitnya digolekkan di atas lantai dari kanan ke kiri dan
     ke depan.
b. Kepala digoncang – goncang di dekat telinga bayi.
c. Membedak dan melangir lantai dengan bedak langir yang dicampur dengan limau
     purut.
d. Membersihkan lantai dengan air bersih, kemudian diberi minyak, disisir dan diberi
     celak.
e. Bidan mengelilingi cermin, kepala, lilin yang ada diatas janggam pada daerah lantai
     yang telah dibersihkan.

            Setelah upacara diatas selesai dilakukan pula upacara memulang nasi bidan. Kegiatan tersebut bentuknya antara lain :
a. Perempuan yang melahirkan menyerahkan sepinggan/sepiring besar pulut kuning
     lengkap dengan lauk pauknya, asam garam, serta uang ala kadarnya dan semua
     peralatan mencuci lantai.
b. Pulut kuning dan peralatan diantarkan ke rumah bidan.
c. Pembacaan doa selamat oleh ahli pembaca doa dan makan bersama.

5. Upacara Masa Kanak – kanak
            Upacara ini disebut upacara kanak – kanak, karena dilakukan ketika anak tersebut berumur satu atau satu tahun setengah, lebih tepatnya upacara ini dilakukan ketika anak itu pandai berjalan. Ada dua macam upacara yang dilakukan pada upacara kanak – kanak, yaitu :
a. Upacara memotong rambut.
b. Upacara memijak tanah.
     Maksud dilakukannya upacara pemotongan rambut adalah : a. Menurut kepercayaan
     orang Melayu, membuang rambut baik, dicukur atau digunting. Jika tidak dilakukan
     dalam suatu upacara mengakibatkan anak tersebut sakit.
b. Untuk membuang sial yang terdapat pada ujung – ujung rambut yang dibawa sejak
     lahir. Jika tidak dibuang anak tersebut akan selalu dirundung malang sepanjang
     hidupnya. Sedangkan upacara memijak tanah maksudnya adalah :
a. Agar anak yang baru pandai berjalan tidak sakit jika berjalan di luar rumahnya.
b. Anak yang tidak melalui upcara memijak tanah akan selalu sakit. Karena menurut keyakinan Melayu.
            Upacara memotong rambut dan upacara memijak tanah dilakukan melalui rangkaian kegiatan, sebagai berikut :
a. Rumah dibersihkan dihias ala kadarnya.
 b. Mengundang tetangga untuk menghadiri upacara tersebut.
c. Undangan biasanya orang – orang yang pandai ber-zanji.

6. Upacara Bersunat Rasul
            Pelaksanaan upacara bersunat dapat dilaksanakan sebagai berikut : - Upacara bersunat yang dilakukan tanpa gabungan dengan upacara lain. - Upacara bersunat yang digabungkan denagn upacara berkhatam qura'an - Upacara bersunat yang digabungkan dengan upacara perkawinan dari salah seorang keluarga terdekat, kakak, abang, atau sepupu dari kedua belah pihak orang tua. - Bersunat bersama yang terdiri dari anak – anak keluarga terdekat. Tujuan bersunat rasul adalah antara lain : - Untuk memenuhi Sunnah Rasul sebagai seorang yang mengaut agama Islam. - Untuk mensucikan anak untuk memasuki usia remaja. Hari pertama, disebut menggantung – gantung. Hari menggantung adalah hari menghias rambut dengan menggantung langit – langit (loteng), memasak tabir, permadani, permadani, perlaminan, membuat nasi besar dan telur berkat, ayam disembelih, alat memasak dikeluarkan, pekerjaan pada menggantung itu adalah jenis pekerjaan kasar yang memerlukan tenaga dan keterampilan. Pekerjaan itu biasanya dilakukan sampai malam hari. Pada malam hari pertama ini orang mengerjakan mengiling rempah. Kadang – kadang diserta pula dengan pertunjukan seni daerah, misalnya, zapin, joget, kasidah, semuanya tergantung hajat tuan rumah. Hari kedua, disebut hari besar, karena pada hari itu sejak subuh tukang masak sibuk memasak makan, ruang pelaminan telah dirapikan ruang serambi telah dibentang tikar dan diberi harum – haruman. Ketika itu semua orang berpakaian baru. Hari ketiga, disebut hari bersunat. 7.
            Upacara Masa Dewasa Kepercayaan orang melayu anak dara yang baik, adalah : 1. Pada zaman dahulu anak dara harus sekali – kali ke luar rumah.anak dara keluar rumah
     adalah pada waktu hari raya, yaitu untuk berkunjung ke rumah – rumah saudara.
2. Jika berjalan mukanya ditutupi dengan kain selendang yang kelihatan hanya matanya. 3. Jika berbicara suara sangat lembut, hampir – hampir tidak kedengaran.
4. Ke luar rumah untuk berjalan selalu diiringi oleh ayah dan ibunya.
5. Bertemu dengan seorang bujang tidak boleh menegur atau menyapa, apabila ia tidak
     ditegur atau disapa.

                        Upacara masa dewasa yang dilakukan oleh orang Melayu, antara lain adalah upacara mengasah gigi. Upacara mengasah gigi boleh dilakukan oleh dara dan bujang. Kebanyakan upacara mengasah gigi ini dilaksanakan oleh anak dara. Akan tetapi bukan semua anak dara melaksanakan upacara mengasah gigi. Tujuan mengasah gigi adalah untuk mempercantik diri. Kegiatan upacara mengasah gigi menjadikan gigi teratur dapat diratakan. Kecantikan wajah lebih mempesona. Biasanya upacara mengasah gigi dilaksanakan oleh seorang dukun pengasah gigi. Pelaksanaan dilakukan di rumah anak dara sendiri. Alat – alat dan benda – benda yang dipergunakan dalam upacara mengasah gigi adalah tiga buah pengasah, sebuah batu penindih, tujuh jenis bunga, setiap jenis satu tangkai, dua buah keras atau kemiri.      
            Pengasah gigi dilaksanakan dengan bilangan ganjil misalnya : satu kali, tiga kali, tujuh kali jika kedua orang tua masih hidup diperkenankan mengasah gigi atas saja. Akan tetapi jika kedua orang tuanya telahtiada hanya diperkenakan mengasah gigi atas dan bawah.

DAFTAR PUSTAKA
di.html(diakses 27 Mei 2016)
Djohan, azaly. 2006. Pemetaan Adat Masyarakat Melayu Riau Kabupaten/Kota Se- Provinsi Riau. Pekanbaru: Lembaga Adat Melayu Riau. Koentjaraningrat, dkk. 2007. Masyarakat dan Budaya Melayu dalam Perubahan. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.
Effendy, T. 1985. Kumpulan Ungkapan. Naskah yang belum diterbitkan, Pekanbaru.
Sujiman, P. H. M. 1983. Adat Raja-raja Melayu. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Rahman, elmustian ,dkk. Alam  Melayu ; Sejumlah Gagasan Menjemput Keagungan. Pekanbaru: Unri Press
Yas Musril. 2003. Budaya Daerah Riau. Pekanbaru. PT Sutra Benta Perkasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar