Selasa, 14 Juni 2016

PROSES MASUKNYA AGAMA ISLAM DI INDONESIA



REZKI YANA /E/S

A. Teori-Teori Masuknya Islam di Indonesia
Pengaruh Hindu-Budha di Indonesia mengalami masa surut setelah masukannya ajaran agama Islam. Proses masuknya Islam ke Indonesia melalui para pedagang Arab, Persia, India atau Gujarat (Thohir, 2004: 291; Pradito, 2002: 31; Yatim, 2008: 191). Sambil berdagang para pedagang Islam juga membawa ajaran Islam ke Indonesia. Pada awalnya, agama Islam berkembang di daerah pantai atau pesisir (Thohir, 2004: 292). Sesudah itu, Islam menyebar ke daerah-daerah pedalaman. Selain dilakukan para pedagang, penyebaran agama Islam di Indonesia juga dilakukan oleh para ulama (Pradito, 2002: 31). Kedatangan Islam di berbagai daerah Indonesia tidaklah bersamaan. Pada waktu itu, Indonesia masih didominasi oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha. Menurut Hakim (2004: 157) kerajaan-kerajan Hindu-Budha yang telah berdiri sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam adalah: Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, Singasari, kerajaan-kerajaan di Sunda dan Majapahit. Asal negara para pedagang Islam yang membawa dan menyebarkan agama Islam di Indonesia menjadi persoalan tersendiri, masalah itu menimbulkan beberapa teori tentang masuknya Islam ke Indonesia. Adapun teori tentang masuknya Islam ke Indonesia sebagai berikut:

1. Islam Datang dari India (Gujarat)
Teori ini dikemukakan oleh Sucipto. Menurutnya, Islam yang datang ke Indonesia dibawa oleh pedagang muslim dari India. Alasan yang menjadi teori ini adalah:
  1. Batu  kubur Sulan Malik As Saleh terbuat dari batu marmer yang sejenis dengan yang ada di India pada abad ke-13.
  2. Relief yang terdapat dalam makan Sultan Malik  As Saleh memiliki corak yang sama dengan yang ada di kuil Cambay India.
  3. Proses pengislaman mengikuti jalur perdagangan rempah-rempah yang ada di India (Pradito, 2002: 33).
Masuknya Islam melalui India ini menurut sebagian pengamat mengakibatkan bahwa Islam yang masuk ke Indonesia bukan Islam yang murni dari pusatnya (Timur Tengah), tetapi  Islam yang sudah banyak dipengaruhi oleh paham mistis, sehingga banyak kejanggalan dalam pelaksanaanya. Selain itu, Islam yang berlaku di Indonesia ini tidak sepenuhnya selaras dengan apa yang digariskan Alquran dan Sunnah, sebab Islam yang datang kepada masyarakat Indonesia itu bukan Islam yang langsung dari sumbernya, tetapi berdasarkan kitab-kitab Fiqih dan Teologi yang telah ada semenjak  abad ketiga Hijriah. Pendapat demikian ini didasarkan pada kenyatan bahwa kitab-kitab Fiqih itu dijadikan referensi dalam memahami ajaran Islam di berbagai pesantren Indonesia.(Thohir, 2004: 293).
2. Islam datang dari Persia
Teori dan bukti islam masuk dari Persia dikemukakan oleh Hosein (Pradito, 2002: 32), dengan pendapatnya sebagi berikut:
  1. Di Persia terdapat suku yang bernama Leran. Suku Leran kemungkinan dahulu datang ke Jawa. Hal ini dibuktikan dengan adanya sebuah kampung bernama leran di Gresik, Jawa Timur.
  2. Di Persia terdapat suku Jawi. Suku Jawi diduga mengajarkan huruf  Arab di Jawa. Huruf Arab itu disebut dengan huruf Arab Pegon, yang banyak terdapat di Indonesia.
3.  Islam Datang dari Arab
Pendapat dan bukti bahwa Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Arab dikemukakan oleh Hamka, yaitu:
a.       Tulisan Ibnu Batutah menyatakan bahwa Raja Samudera Pasai bermadzhab Syafi'i (Yatim, 2008: 207). Madzhab ini mempunyai penganut terbesar di Mesir dan Mekah. Jika Islam di Indonesia berasal dari Persia, di Indonesia tentunya banyak yang menganuut aliran Syi'ah seperti di Persia. Sebaliknya, jika Islam di Indonesia berasal dari India maka madzhab yang dianut tentunya madzhab Hanafiah seperti yang banyak dianut masyarakat muslim di India.
b.      Menurut buku yang ditulis oleh Tim Penyusun Studi Islam IAIN Suanan Ampel Surabaya (2005: 270) gelar yang dipakai raja-raja Samudera Pasai adalah al Malik. Gelar ini digunakan oleh raja-raja di Mesir, sedangkan gelar yang biasa dipakai di Persia  adalah Syah. Padahal, gelar Syah di Indonesaia baru muncul pada abad ke-15 dan digunakan oleh raja-raja Malaka (cf. Yatim, 2008: 206).
B. Bukti-Bukti Sejarah Peninggalan Islam
Proses masuknya Islam ke Indonesia dapat dipelajari dari sumber-sumber sejarah yang ada. Sumber-sumber sejarah tersebut berupa catatan sejarah para musafir ataupun pesan-pesan di batu nisan dan makam. Sumber-sumber permulaan sejarah Islam di Indonesia tersebut merupakan bukti-bukti peninggalan Islam. Berikut bukti-bukti sejarah peninggalan Islam di Indonesia, yaitu:
1. Batu Nisan dan Makam
Bukti-bukti peninggalan Islam berasal dari permulaan masuknya Islam ke Indonesia berupa batu nisan dan makam sebagi berikut:
  1. Batu Nisan Islam yang tertua ditemukan di Leran, Jawa Timur. Nisan itu milik seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun. Nisannya berangka tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi. Dilihat dari hiasannya, nisan  ini dibuat di luar Indonesia. Penemuan ini memunculkan pendapat bahwa masuknya Islam ke Indonesia terjadi sekitar abad ke-11 Masehi (Yatim, 2008: 193; Thohir, 2009: 29).
  2. Batu Nisan Sultan Kerajaan Samudera Pasai yang pertama. Sultan ini bernama Sultan Malik As Saleh. Nisan itu berangka tahun 696H/1297M (Yatim, 2008: 205).
  3. Dua batu nisan berangka tahun 781 H/1380M dan 789 H/1389M di Munja Tujoh, Aceh Utara. Kedua nisan ini menunjukkan tahun meninggalnya putra sultan Samudera Pasai ketiga yang bernama Sultan Malik As Zahir (cf. Muljana, 2005: 138).
  4. Beberapa batu nisan yang memuat kutipan dari Alquran ditemukan di kuburan Trowulan dan Troloyo, Jawa Timur. Tempat ini berdekatan dengan bekas istana kerajaan Majaphit. Ciri batu nisan ini adalah bertulisan huruf Arab , tetapi memakai angka tahun Jawa kuno. Nisan-nisan di Trowulan berangka tahun 1368-1369 M dan beberapa nisan di Troloyo berangka tahun 1376-1611 M. Makam ini diperkirakan milik keluarga raja dari kerajaan Majapahit (Amin, 2000: 30).
  5. Batu nisan milik Maulana Malik Ibrahim ditemukan di Gresik. Malik Ibrahim adalah salah seorang dari Wali Songo. Nisan ini berangka tahun 822 H/1419M. Hal ini menunnjukkan bahwa pada tahun itu agama Islam sudah masuk di pesisir utara Jawa (Pradito, 2002: 33).
2.Catatan Sejarah
Catatan sejarah yang dibuat oleh para musafir yang datang ke Indonesia merupakan sumber sejarah, berbagai catatan tersebut sebagai berikut:
  1. Berita Cina dari Dinasti Thang. Menceritakan adanya orang-orang Ta Tsih yang mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan Ho Ling. Kerajaan ini dipimpin oleh Ratu Shima tahun 674 Masehi yang sangat kuat. Sebutan Ta Tsih dalam bertia itu ditafsirkan sebagai orang-orang Arab (cf. Yatim, 2008: 192).
  2. Catatan Ma Huan. Ma Huan adalah musafir dari Cina yang mengunjungi pesisir utara Jawa. Ia mencritakan bahwa pada tahun 1416 M di Gresik terdapat masyarakat muslim. Hal ini membuktikan bahwa telah terjadi proses pengislaman di Majapahit, baik di pusat maupun di daerah pesisir (Yatim, 2008: 197).
  3. Catatan Marco Polo. Perjalanan Marco Polo menjelajahi samudera di antaranya singgah ke kota Perlak pada tahun 1292 M. Perlak terletak di Sumatera Utara. Di dalam catatan perjalanannya ia menulis bahwa kota Perlak adalah kota Islam (Pradito, 2002: 33).
  4. Buku berjudul Suma Oriental yang ditulis musafir portugis, yaitu Tome Pires. Isinya adalah catatan tentang penyebaran agama Islam antara tahun 1512-1515 Masehi di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan kepulauan Maluku. Tome Pires memberi gambaran tentang bagaimana wilayah-wilayah pesisir Jawa berada di bawah pengaruh muslim.
Pada waktu terdapat banyak orang kafir di sepanjang pesisir Jawa, banyak pedagang yang biasa datang: orang Persia, Arab, Gujarat, Bengali, Melayu, dan bangsa-bangsa lain. Mereka mulai berdagang di negeri itu dan berkembang menjadi kaya. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan mullah-mullah datang dari luar. Oleh karena itu, mereka datang dalam jumlah yang terus meningkat. Anak-anak orang kaya muslim sudah menjadi orang Jawa dan kaya, karena mereka telah menetap di daerah itu sekitar 70 tahun. Di beberapa tempat, raja-raja Jawa yang kafir menjadi muslim, sementara para mullah dan pedagang muslim mendapat posisi di sana. Yang lain mengambil jalan membangun benteng di sekitr tempat-tempat mereka tinggal dan mengambil masyarakat pribuminya, yang berlayar di kapal-kapal mereka. Mereka membunuh raja-raja Jawa serta menjadikan diri mereka sebagai tuan-tuan di pesisir itu serta mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di jawa.(Yatim, 2008: 199).

PROSES PENYEBARAN AGAMA ISLAM
A. Cara-Cara Penyebaran
Ada beberapa cara penyebaran agama Islam di Indonesia, diantaranya adalah:
1. Perdagangan
Dalam hal ini penyebaran ajaran Islam dilakukan oleh pedagang Islam kepada pedagang–pedagang lain. Pada waktu berdagang saudagar-saudagar dari Gujarat, Persia dan Arab berhubungan atau bergaul langsung dengan penduduk setempat. Mereka berhasil mempengaruhi penduduk setempat hingga tertarik untuk menganut agama Islam.
2. Perkawinan
Dari sudut ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik daripada kebanyakan penduduk pribumi, sehingga penduduk pribumi terutama putri-putri bangsawan tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Sebelum menikah, mereka diislamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka semakin luas. Akhirnya, muncul kampung-kampung, daerah-daerah, dan kerajaan-kerajaan Islam. Jalur perkawinan ini lebih mengunutungkan apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak raja atau bangsawan. Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat atau Sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunug Jati dengan putri Kawunganten, Brawijaya dengan putri Campa yang menurunkan Raden Patah yang kemudian menjadi raja pertam Demak.(Yatim, 2008: 202).
3. Pendidikan
Pendidikan agama Islam dilakukan memalui lembaga pesantren , perguruan khusus agama Islam. Penyebaran islam melalui pondok pesantren berarti penyebaran melalui perguruan tinggi. Perguruan ini mendidik para santri dari berbagai daerah. Setelah tamat , mereka mendirikan lembaga atau pesantren di daerah asal mereka. Dengan demikian, agama Islam berkembang dan menyebar ke seluruh Indonesia. Misalnya, pesantren yang didiriakan oleh Raden Rahmat di Ampeldenta Surabaya dan Sunan Giri di Giri. Santri yang keluar dari pesantern ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan agama Islam.(Yatim, 2008: 203).
      4. Dakwah
Penyebaran agama Islam juga banyak dilakukan oleh guru dakwah (mubaligh). Contoh: penyebaran agama Islam di pulau Jawa yang dipelopori oleh para wali, yang kemudian terkenal dengan sebutan Wali Songo.
5. Akultursi dan Asimilasi kebudayaan
Untuk mempermudah dan mempercepat berkembangnnya agama Islam, penyebarannya juga dilakukan melalui pengabunggan  dengan unsur-unsur kebudayaan yang ada di suatu daerah tertentu. Contoh: Penggunaan do'a-do'a Islam dalam upacara adat, seperti kelahiran, selapan, perkawinan, seni wayang kulit, beberapa bangunan, ragam hias dan kesusasteraan.
B. Golongan Penerima Agama Islam
Ketika Sriwijaya mengalami kemunduran akibat ekspansi Singasari dan Majapahit, kehidupan politik dan ekonomi mulai guncang (Yatim, 2008: 195). Di pihak lain, Majapahit mengalami kekacauan akibat pemberontakan di berbagai daerah dan adanya perseteruaan anggota keluarga karena perebutan kekuasaan. Akibat guncangan politik dan ekonomi tersebut kehidupan sosial dan budaya pun goyah. Keperluan-keperluan upacara keagamaan, kreasi-kreasi dan kerajinan tangan, seni bangunan, seni patung ukir, dan cabang-cabang seni lainnya terpengaruh situasi politik dan ekonomi yang kacau itu. Pada saat kekacauaan itu, banyak pedagang muslim yang singgah di Indonesia, mereka kemudian memberi pegangan kepada masyarakat yang tengah mengalami kekacauan. Adapun golongan penerima Islam di Indonesia dapat dikategoriakan sebagia berikut:
1. Para Pedagang
Para pedagang Indonesia tertarik ajaran Islam karena para pedagang muslim dapat menunjukkan sifat-sifat dan tingkah laku yang baik. Selain itu, para pedagang itu rata-rata memiliki pengetahuan agama yang tinggi. Para pedagang Indonesia belajar tentang Islam dari para pedagang muslim, bahkan beberapa di antarnya  datang sendiri ke negeri asal agama tersebut yaitu Timur Tengah.
2. Para Bangsawan
Di antara para pedagang Indonesia yang berhubungan dengan para pedagang muslim adalah penguasa daerah pantai, misalnya adipati atau punggawa kerajaan. Para bangsawan itu memegang peranan dalam menentukan kebijakan perdagangan dan pelayaran. Mereka juga pemilik kapal dan saham dalam kegiatan perdagangan (Yatim, 2008: 201). Karena pusat-pusat kerajaan Hindu-Budha mengalami kekacauan politik menimbulkan keinginan para adipati di pesisir untuk melepaskan diri dan mengadakan hubungan dengan pedagang muslim. Pada kesempatan itu pula, raja-raja dan bangsawasan Indonesia memeluk agama Islam.
3. Masyarakat
Rakyat umumnya memandang pemimpin dan bangsaawan sebagai contoh yang baik untuk diikuti. Dengan demikian, apabila seorang pemimpin atau bangsawan memeluk islam, maka rakyat akan mengikutinya. Selain itu, rakyat yang semula menganut agama Hindu-Budha memandang agama Islam lebih karena tidak mengenal kasta. Islam tidak mengenal perbedaan golongan dalam masyarkat. Inilah  daya tarik paling kuat bagi rakyat kecil untuk memeluk Islam (Pradito, 2002: 34). Islam memberi suatu persamaan bagi pribadinya sebagai anggota masyarakat.
C. Faktor-faktor Pendukung Penyebaran Islam
Beberapa faktor yang mendukung agama Islam dengan cepat berkembang di Indonesia adalah:
1. Ajarannya sederhana, kesederhanaan ajaran agama Islam menjadikan Islam sebagai agama yang sangat mudah dimengerti sehingga dapat diterima oleh setiap orang yang mempelajarinya.
2. Syaratnya mudah, syarat pokok untuk menjadi seorang muslim adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, isi dari kedua kalimat syahadat itu adalah pengakuan dan kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, serta kesaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
3. Upacara-upacara keagamaan sangat sederhana, upacara-upacara keagamaan (ritual) dalam ajaran agama Islam sangat sederhana. Dalam melaksanakan ritual keagamaan, pemeluk agama Islam tidak pernah melakukan hal-hal yang rumit, misalnya sesaji.
4. Tasawuf, ajaran agama Islam yang masuk ke Indonesia telah melewati Iran dan Irak sehingga ajaran Islam ini sudah dipengaruhi oleh unsur-unsur mistis yang disebut tasawuf (Amin, 2000: 62). Ternyata unsur ini lebih menarik, karena memang lebih sejalan dengan pola pikir dan budaya masyarakat Indonesia pada saat itu.
5. Disebarkan melalui damai, ajaran agama Islam disebarkan melalui cara-cara damai, antara lain melalui kesenian daerah setempat, serta akulturasi dan asimilasi dengan kebudayaan.
6. Faktor politik, runtuhnya kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit dan Sriwijaya juga merupakan penyebab pesatnya perkembangan penyebaran Islam di Indonesia.
TOKOH-TOKOH PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA
Salah satu tokoh penyebaran islam di indonesia yaitu ulama-ulama, terutama ulama di pulau jawa. Di pulau Jawa penyebaran agama Islam dipelopori oleh para wali. Mereka lebih dikenal dengan sebutan Wali Songo. Para wali sangat aktif dalam menyiarkan agama Islam di daerah tempat tinggal mereka. Mereka dipandang memiliki pengetahuan yang luar biasa. Artinya, mereka orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah, serta memiliki tenaga gaib dari kekuatan batin yang sangat tinggi. Oleh karena itu, para wali diberi gelar Sunan, artinya yang dijujung tinggi atau dihormati (Pradito, 2002: 37). Nama para wali biasanya diambil dari nama tempat yang dijadikan sebagi pusat penyebaran Islam atau tempat mereka dimakamkan. Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa saja yang termasuk sebagai Wali Songo, pada umumnya terdapat sembilan nama yang dikenal sebagai anggota Wali Songo yang paling terkenal, yaitu:
1.      Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim.
2.      Sunan Ampel atau Raden Rahmat.
3.      Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim.
4.      Sunan Drajat atau Raden Qasim.
5.      Sunan Kudus atau Jaffar Shadiq.
6.      Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin.
7.      Sunan Kalijaga atau Raden Said.
8.      Sunan Muria atau Raden Umar Said.
9.      Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.



DAFTAR PUSTAKA
Amin, Darori M.(Ed.), 2000. Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Gama Media.
Hakim, Nur. 2004. Sejarah dan Peradaban Islam. Malang: UMM Press.
Muljana, Slamet. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Budha dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.
Pradito, Aryo. 2002. Sejarah: Untuk Siswa SMA Kelas X Semerter Genap. Klaten: CV Viva Pakarindo.
Thohir, Ajid. 2004. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam: Melacak Akar-akar Sejarah, Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Tim Penyusun Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya. 2005. Pengantgar studi Islam.
Yatim, Badri. 2008.   Sejarah Peradaban Islam: Dirasah II. Jakarta: Rajawali Pr



Tidak ada komentar:

Posting Komentar