Rabu, 15 Juni 2016

TRADISI PACU JALUO KUANTAN


Jeni Idia / PBM

A.  Pacu Jaluo sabagai Khazanah Budaya Melayu Masyarakat Kuantan Singingi 
"Tentu ini merupakan satu proses budaya yang akan terus dilestarikan. Berangkat dari nenek moyang kita dengan kegotong royongan. Dengan gotong royongan itu kemudian meningkatkan persatuan dan kesatuan," Papar Tarmis (42), salah seorang panitia Tradisi Pacu Jaluo 2013 di Lapangan Limuno, Taluk Kuantan. 
Kuantan Singingi merupakan satu dari 12 kabupaten di Propinsi Riau yang memiliki luas 6.235,04 km2, sedangkan jumlah populasi tahun 2010 sebanyak 
291.044 jiwa. Jika ditarik sebuah rumus akumulasi kepadatan menghasilkan 46 jiwa/km2. 

Berdasarkan  data  Badan  Pusat  Statistik  (BPS)  Kuantan  Singingi, mayoritas masyarakat beretnikan Melayu khususnya di wilayah timur. Kemayoritasan masyarakat Kuantan Singingi ini, sadar atau tidak telah turut memberikan  kontribusi  besar  demi  mewujudkan  visi-misi  Riau  2020— menjadikan Riau pusat budaya Melayu di Asia Tenggara. Tentu bukan saja omongan belaka namun dapat terlaksana dengan nyata apabila lapisan masyarakat Melayu dapat bekerja sama. 
Merambah orientasi kepada aspek global, pengaruh modernisasi mau tidak mau senantiasa menggrogoti kekhasan suatu wilayah. Tidak dapat dipungkiri lagi, kesempatan yang diberikan dan peluang asimilasi dari masyarakat Jawa, Minang, Tionghoa maupun mancanegara yang menetap di Kuantan Singingi memberikan pengaruh besar terhadap keberadaan masyarakat Melayu dan kebudayaannya. Bermula dari nama Kuantan Singingi, penarikan nama tersebut bersumber dari 2 sungai  yaitu Sungai Kuantan dan Sungai Singingi.  Lebar dan  panjang mengindikasikan besarnya sebuah sungai, realita membuktikan Kuantan sebagai sungai terbesar di daerah Kuantan Singingi. 
Sejarah mencatat peranan sungai sangat penting terhadap perekonomian, transportasi  serta  pelayanan  kemasyarakatan.  Melayu  sebagai  salah  satu  etnik tertua di Indonesia telah berkecimpung lama dengan keberadaan sungai. Melalui sungai orang Melayu bertransportasi, melalui sungai orang Melayu bertransaksi dan melalui sungai pula orang Melayu bertradisi. 

Sungai Kuantan telah menjadi saksi bisu perjalanan sebuah tradisi dan budaya Melayu. Adapun tradisi tersebut dikenal oleh masyarakat Melayu di Kuantan Singingi dengan nama Tradisi Pacu Jaluo. 

Menjenguk masa lalu, merambah masa depan. Perjalanan Tradisi Pacu Jaluo mengalami lika-liku situasi dan kondisi. Perkembangan dan perubahan seiring terjadi silih berganti. Pada awalnya tradisi ini hanyalah permainan hiburan orang Melayu untuk melepas penatnya bekerja. Hingga pada rahun 1900, Tradisi Pacu Jaluo telah mulai diperlombakan secara besar tepatnya untuk memeriahkan hari-hari Islam. 3 tahun kemudian, Belanda sebagai penjajah datang ke daerah Kuantan, membuat  perubahan  terhadap  Tradisi  Pacu  Jaluo  yaitu  hanya  boleh dilaksanakan untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Wilhemina—31 Agustus. 
Peraturan  Belanda  secara  tidak  langsung  telah  memberikan  paradigma baru terhadap masyarakat Melayu, bahwa Tradisi Pacu Jaluo akan dilaksanakan setahun sekali. Tentu pertimbangan ini terlebih dahulu telah disepakati oleh petinggi-petinggi adat mengingat efisiensi waktu, morill maupun material masyarakat. 

Progres mobilisasi yang terjadi seiring perkembangan zaman, membawa tradisi turut beradaptasi. Dewasa ini, subjek dari Tradisi Pacu Jaluo tidak hanya orang  Melayu  saja,  melainkan  orang  Jawa,  Minang,  Tionghoa  bahkan mancanegara sekalipun boleh melakukannya. 
Motif ukiran maupun warna pada jaluo juga turut berubah, yang awalnya bermotifkan Melayu sekarang bermotif perpaduan antara beberapa adat, baik itu Jawa, Minang maupun Tionghoa. Salah satu bukti adaptasi tersebut adanya perpaduan  warna  hijau  (warna  Melayu)  dan  kuning  (warna  orang  Tionghoa), begitu  pula  dengan  warna  merah  (warna  Minang).  Sedangkan  perhelatan tradisinya dilaksanakan tanggal 20-26 Agustus. Jelas hal ini juga disertai dalam peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI). 

B.  Meninjau Tradisi Pacu Jaluo Kuantan Singingi dalam Adat Melayu 

Tradisi Pacu Jaluo Kuantan Singingi sebagai salah satu kebudayaan khas Melayu telah ada jauh sebelum kehidupan ini mengenal teknologi dan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, sebelum pengaruh agama, kemerdekaan dan modernisasi kebudayaan ini telah ada. Namun seiring berjalannya waktu rela tidak rela kebudayaan harus mengalami perubahan bisa itu kearah positif atau sebaliknya. 

Secara harfiah "Pacu Jaluo" terdiri dari kata "Pacu" yang berartikan berusaha untuk saling mendahului atau cepat. Sedangkan kata "Jaluo (Jalur)" berartikan lintasan, namun bagi masyarakat Melayu arti Jaluo adalah perahu yang berukuran 25-30 m dengan garis tengah perahu kira-kira 1,5 m. Maka secara terminologi arti kata "Pacu Jaluo" adalah perlombaan cepat mendayung perahu pada sebuah lintasan—6 pancang atau kira-kira 1 km. 

Eksistensi Tradisi Pacu Jaluo dewasa ini, tidak terlepas dari pengaruh adat Melayu, meskipun dihujam dengan batuan perubahan zaman Tradisi Pacu Jaluo masih tetap lestari.  Adapun nilai adat yang masih tetap dipegang terungkap dalam dendangan  bait  Melayu  oleh  Iriak  Kayuah2:  "hiduik  seumah  beamah  tamah, hiduik sebanjao ajao mengajao, hiduik sedusun tuntun menuntun, hiduik sekampuong tolong menolong, hiduik senegoi bai membai, hiduik sebangso aso measo". Artinya adalah "hidup serumah beramah tamah, hidup sebanjar ajar mengajar, hidup sedusun tuntun menuntun, hidup sekampung tolong menolong, 
hidup senegri beri memberi, hidup sebangsa rasa merasa". Dendangan  bait  Melayu  akan  menggerakkan  raga  dan  jiwa  para pendayung untuk tetap fokus dalam berpacu. Sedangkan inti ataupun maksud dari bait tersebut mengungkapkan bahwa adat Melayu senantiasa persebatian (bersatu dalam  kesatuan), gotong  royong,  tenggang  rasa dan  nilai  kebersamaan  dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Jika diperhatikan  dengan  seksama nilai  adat  Melayu  seperti  ini  secara tida 
langsung telah teraktualisasi dari Tradisi Pacu Jaluo. Pertama: aspek persebatian  atau  kesatuan,  dalam  hal  ini  subjek  tradisi  yang  umumnya  para generasi muda akan membulatkan tekad bersatu dalam pelaksanaan mendayung, bersatu dalam niat serta bersatu dalam pencapaian sukses. Kedua: aspek gotong royong, subjek tradisi yang berjumlah 40-60 orang dengan backround berbeda haruslah saling bahu-membahu satu sama lain, bantu-membantu dalam sebuah kebersamaan yang solid. 
Ketiga: aspek tenggang rasa atau saling pengertian, secara tidak langsung akan  mempererat  tali  kekeluargaan  antar  subjek  tradisi,  menyadari  seraya mengerti  akan  kesalahan  dan  loyal  kepada  persatuan.  Adapun  aspek  terakhir adalah kebersamaan, bersama jiwa, bersama cita dan bersama harapan akan membuat para subjek tradisi tetap bersemangat, merasa berperan satu sama lain. 

Empat aspek Melayu tersebut akan saling mengisi satu sama lain, tidak bisa terpisahkan dan tidak bisa pula berdiri sendiri. Percaya atau tidak aspek- aspek tersebut merupakan kunci sebuah keberhasilan perjuangan bersama, dimana keserasian pegangan dayung  maupun kesalarasan gerakan subjek tradisi, bergerak dengan teratur serta terarah yang kesemuanya itu malambangkan sebuah harmonisasi kehidupan berbangsa. 

C.  Implementasi Adat Melayu sebagai Harmonisasi Kehidupan 
Pengaruh modernisasi yang global terhadap semua aspek kehidupan benar adanya tidak dapat dipungkiri lagi. Kehidupan masyarakat Melayu, seiring waktu berjalan bisa ataupun tidak bisa akan terseret dengan lajunya globalisasi. Namun ada satu hal yang tidak akan bisa merubah kehidupan masyarakat Melayu yaitu adat Melayu itu sendiri. Adat  Melayu  jelas  merupakan  sebuah  prinsip  Melayu,  sebuah  akar Melayu. Hilangnya akar ini tentu akan berdampak hilang pula Melayu tersebut. 

Komitmen sebuah pelestarian Melayu adalah, "tak kan Melayu hilang di bumi". Komitmen adat ini senantiasa terpatri dalam sanubari generasi Melayu. Inilah alasan adat Melayu akan selalu eksis keberadaannya di muka bumi apabila generasinya tetap teguh pada komitmen tradisi. 

4 aspek adat Melayu yaitu persatuan, gotong-royong, tenggang rasa dan kebersamaan,  tentulah  patut  dicermati,  karena  dahulu  dijadikan  landasan  dan acuan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga terwujudlah kehidupan yang tertib, aman dan damai. Padahal dahulu masyarakat Melayu juga hidup berdampingan dengan masyarakat lain. Kearifan para pendahulu Melayu sudah membuktikan, bahwa dengan berlandaskan kepada nilai-nilai asas adat dan budayanya selama ratusan tahun mampu mengekalkan kehidupan yang tertib, aman dan damai, serta mampu mewujudkan kebersamaan dalam keberagamaan masyarakat. 


Bertolak dari Tradisi Pacu  Jaluo, adat  Melayu  akan selalu melekat di dalamnya. Nilai adat Melayu akan selalu ada selagi Tradisi Pacu  Jaluo tetap dilestarikan. 
Kebolehan  perumpamaan,  pasti  membawa  jaluo  layaknya  negara Indonesia. Apabila 4  aspek Melayu  tidak terlaksana dengan baik  oleh subjek tradisi notabene orang yang beragam latar belakang (rakyat), jaluo yang melambangkan  Indonesia  akan  mengalami    keolengan.  Jika  keolengan  tidak diatasi dengan cepat, maka Indonesia akan beralamat karam di akhir pencapaian. 
Dewasa ini, Indonesia dengan keragaman budayanya yang lebih bervariasi dengan pengikat maupun pemersatu bangsa yang semakin hari semakin melemah. Tentu kondisi ini telah membuka peluang intervensi satu sama lain. Hal ini dapat membawa perubahan yang tidak hanya dalam pelaksanaan sebuah budaya namun pergeseran nilai-nilai budaya, nilai-nilai adat akan ikut merasakan karenanya. 

Berefleksi  terhadap  adat  Melayu,  4  aspek  nilai  yang  terungkap  pada Tradisi Pacu Jaluo tentu dapat diimplementasikan terhadap Indonesia, karena Melayu dan Indonesia sejatinya adalah dua hal yang satu dan tidak akan bisa terpisahkan.  Indonesia  merupakan  rumpun  Melayu  dunia,  bahasa  Indonesia berdasarkan bahasa Melayu dan kepribadian Indonesia dahulunya berlandaskan pula asas Melayu, tentu hal ini tidak dapat pungkiri. 

Bhinneka Tunggal Ika, sebagai semboyan pemersatu bangsa yang besar seperti Indonesia tentu memerlukan tambahan asas maupun aspek yang selaras demi sebuah solidnya persatuan. Tidak ada salahnya, jika penyunjungan terhadap nilai asas adat Melayu dilaksanakan maupun diaktualisasi karena karakter pengertiannya sama demi mewujudkan kehidupan harmonis ditengah perbedaan. 

Beberapa hal yang penulis rasakan penting, barangkali dapat penulis poin- poinkan sebagai berikut: 

1.  Tradisi Pacu Jaluo bagian dari kebudayaan Melayu yang didalamnya secara  tidak  langsung  teraktualisasi  nilai  adat  Melayu  dalam pencapaian keharmonisan hidup. 

2.  Pengaruh modernisasi memang tidak dapat dibendung lagi dampaknya, namun penulis berharap eksistensi Tradisi Pacu Jaluo dapat terus terjaga.  Hal  yang  biasa  bila  terjadi  perubahan  dalam  pelaksanaan tradisi namun penolakan nyata bila adanya pergeseran nilai adat dari tradisi. 

3. Bhinneka Tunggal Ika merupakan pemersatu bangsa Indonesia diharapkan tetap manjadi icon pemersatu yang kuat, jangan sampai suatu  saat  nanti  sang  pemersatu  ini  mengalami  kehilangan  fungsi karena hal ini akan berdampak kepada kemorosotan bangsa. Sadarilah Indonesia merupakan negara dengan keragaman luar biasa hingga saat ini masih tetap satu dengan adannya icon tersebut. 

4. Adat Melayu merupakan wajah pemersatu Melayu yang dapat diimplementasikan kepada Negara Indonesia. Meskipun kecil, kontribusi  Melayu  terhadap  Kesatuan  Indonesia  sesungguhnya berperan penuh dalam pencapaian persatuan bangsa. 

5.  Menyadari budaya Melayu adalah bagian dari budaya Indonesia, milik kita, harta paling berharga. Sebagai generasi Melayu kita harus mempunyai prinsip dan memegang teguh hakikat "Takkan Melayu Hilang di Bumi". 

6. Pentingnya aktualisasi adat Melayu, khususnya masyarakat Melayu bagaimanapun caranya baik berperan langsung terhadap pelestarian budaya Melayu, maupun turut berpartisipasi dalam kelangsungan adat Melayu. 

DAFTAR PUSTAKA

Effendy,  Tenas.  2006.  Peranan  Adat  dan  Kelembagaan  Adat  dalam 

Pembangunan Bangsa. Pekanabaru: LAM Riau

Hamidy, UU. 1986. Kesenian Jalur di Rantau Kuantan Riau. Pekanbaru: Bumi Pustaka 

Hamidy,  UU.  1990.  Masyarakat  dan  Kebudayaan  di  Daerah  Riau. Pekanbaru: Zamrad 

---. 2002. Catatan Dinas Kebudayaan, Kesenian dan Pariwisata Kuantan Sengingi 

Internet 
1.  
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kuantan_Singingi (diakses tanggal 1 Juni 2016) 
2.  
http://inhusatu.com/index.php/berita/detail/4011/2013/08/23/- ratusan-ribu-penonton-saksikan-pacu-jalur-di- kuansing#.UjTCEdnwaZS (diakses tanggal 1 Juni 2016) 
3.  
http://sosbud.kompasiana.com/2012/07/09/pacu-jalur-khazanah- budaya-kuantan-singingi-475747.html#    (diakses    tanggal    1 Juni 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar